Tantangan Dunia Perbankan di Tengah Trend “Japanification Banking” 

103 0

Dunia berkembang, doktrin lama digantikan dengan yang baru tidak terkecuali dunia perbankan — RMND

Manusia berencana namun tuhan berkehendak lain, pada tahun 2019 sempat ramai prediksi para praktisi keuangan bahwa dunia perbankan akan segera berganti ke arah trend baru. Dunia perbankan akan dihadapkan dengan trend “Japanification Banking”. 

Japanification banking dimulai dengan stagnasi ekonomi dalam waktu yang cukup lama, rendahnya inflasi maupun deflasi hingga puncaknya suku bunga perbankan yang sangat rendah bahkan mencapai 0%. 

Japanification refers to the combination of low growth, low inflation and low interest rates that has plagued Japan since the collapse of its real estate bubble in the early 1990s — Naohiko Baba.

Japanification banking akan merubah peta perekonomian, karena akan sangat menentang keberadaan bank konvensional jika tidak didukung oleh permodalan yang mumpuni atau tidak memiliki nilai pembeda dimata konsumen.

Perbankan harus dapat mendefinisikan ulang bisnisnya agar tetap dapat bertahan di tengah perubahan yang ada. Hal ini didasari bahwa fintech akan memegang peran penting dalam perkembangan industri keuangan kedepan. 

Regulasi 

Pada masa awal fintech mungkin akan mendapat halangan dari regulasi yang ada. Hal ini akan membuat para fintech untuk hadir dan menyesuaikan dengan regulasi yang ada. Namun hal ini tidak akan membuat para innovation maker terhambat kreativitasnya. 

Teknologi 

Bank akan kehilangan jati dirinya jika masih terfokus pada product dan bukan konsumen. Karena di masa keterbukaan informasi dan integrasi data dengan layanan AI dan Cloud. 

Pada masa keterbukaan informasi jejak digital pelanggan, bank dan masyarakat umum dapat terintegrasi dengan baik dan memungkinkan bank untuk dapat menyediakan produk yang berorientasi pada konsumen. 

Resiko 

Kemampuan bank dalam memitigasi risiko yang ada akan diuji ke depan karena akan ada perubahan secara massive karena akan ada perbedaan peraturan, ketidakstabilan geopolitik, dan potensi penurunan ekonomi hal ini akan menciptakan sejumlah tantangan.

Teknologi akan memegang peran penting pada satu dekade ke depan namun disisi lain kehadiran teknologi akan membawa resiko tersendiri bagi bank. Bank harus menyeleksi dengan baik dengan pihak ketiga penyedia layanan IT. 

Hal ini penting untuk menjaga bank dari potensi kejahatan dan bias keamanan akan memunculkan kebutuhan atas keandalan program AI milik perbankan. 

Sumber Daya Manusia 

Perbankan harus dapat menyiapkan sumber daya manusia yang dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi, keterampilan interpersonal yang kuat dan dapat menginspirasi karyawan lain dengan visi yang inovatif dan berkelanjutan.

Deloitte memprediksi bahwa akan ada trend kedepan untuk melakukan pekerjaan secara jarak jauh dan kerja di kantor secara berdampingan.

Disisi lain ada beberapa layanan yang selama ini menjadi tugas utama bank di dalam perekonomian yang harus dilakukan penyesuaian agar bank tetap survive. 

Retail banking

Dengan didorong oleh keterbukaan dan kemudahan informasi, kedepan konsumen dalam industri perbankan memerlukan layanan konsumen yang lebih holistik atau menyeluruh agar pelanggan tetap bertahan. 

Pembayaran

Layanan pembayaran perbankan akan mendapatkan tantangan kedepan, mulai dari layanan perlindungan identitas, management kas, hingga layanan lain yang memberikan nilai tambah bagi konsumen. 

Mata uang digital kedepan akan menjadi nilai baru yang akan diakui nilainya jika sudah mendapat regulasi dari pemerintah. 

Wealth Management

Layanan penasihat keuangan tidak akan tergantikan ke depan karena dalam layanan ini membutuhkan chemistry antara klien dan penasehatnya. 

Kemungkinan besar para pendatang baru (fintech) akan bekerja sama dengan pihak perbankan exisying untuk dapat menyediakan layanan hybrid terbaik. 

Investment Banking 

Pada sektor investasi perbankan akan hadir terbatas sebab modal yang dimilikinya, karena dengan keterbukaan informasi yang ada hampir semua potensi investasi dapat diketahui dengan baik. 

Namun, perputaran investasi pada bank akan terbatas pada kemampuan finansial, kebutuhan hingga pengetahuan para nasabahnya. 

Transaksi dan Corporate Banking

Perbankan harus dapat menggunakan dengan baik dukungan layanan awan, 5G dan kecerdasan buatan. Hal ini perlu dilakukan untuk dapat memberikan advice atau saran kepada nasabah korporasi nya untuk menghindari resiko politik sehingga lingkungan. 

Tidak menutup kemungkinan bahwa layanan perbankan akan memberikan layanan asuransi bagi aset digital yang sedang booming saat ini.   

Salah satu bank yang sudah melakukan pengembangan produk yang berorientasi pada pengguna khususnya masyarakat muslim di Indonesia adalah Bank Syariah Indonesia. 

Sebagai perbankan dengan fokus market dunia muslim, Bank Syariah Indonesia memberikan layanan yang menjawab kebutuhan masyarakat muslim pada umumnya tergambar dari fitur fitur yang ditawarkan pada konsumennya. 

Salah satu fitur yang mencolok adalah terintegrasinya layanan berbagi (zakat, infaq, shodaqoh) dan investasi emas di aplikasi mobile Bank Syariah Indonesia. Untuk kalian yang berminat untuk membuka rekening namun terkendala waktu. 

Kini layanan pembukaan rekening dapat dilakukan secara online melalui aplikasi BSI  Mobile dan ada promo tambahan hingga 30 September 2021 sebesar Rp 10.000 dengan menggunakan kode promo RIO019195. 

Selain mendapatkan saldo tambahan kalian juga berhak mendapat voucher belanja di SKO. Indonesia sebesar Rp 20.000 untuk pembelian stiker kartu e-money hingga debit kalian. 

Kalian hanya perlu memberikan bukti menggunakan kode promo RIO019195 via direct message Instagram @mayanesiadotcom atau Whatsapp ke 0821-1082-9195. 

Untuk informasi lebih lanjut bisa langsung kunjungi akun Instagram @mayanesiadotcom atau langsung kunjungi s.id/skoindonesia untuk melihat design sticker yang tersedia. 

Rio Aditya Ermindo

Rio Aditya Ermindo

Follow my instagram @rioadityae

Leave a Reply