Split-Bills VS Traktiran

195 0

Baru-baru ini lagi heboh polemik ‘split-bill’ di media sosial nih guys. Tradisi mentraktir memang sudah umum di Indonesia namun apakah tradisi pop culture “split-bill” akan menjadi trend baru ? 

Sebenarnya tradisi split-bill ini baik atau tidak sih ? 

Pertama, penilaian dini murni pendapat pribadi sebagai orang umum dan tidak memiliki background psychology. 

Tradisi saling mentraktir sebenarnya tidak usah diragukan lagi di Indonesia, entah kenapa kita senang aja mungkin kalau bisa traktir rekan atau keluarga kita. 

Jadi pada dasarnya tradisi traktir itu baik dan diakui oleh masyarakat umum sebagai perbuatan positif. 

Tapi kalau kita dalam posisi yang sedang “ngepas” sedangkan ada kegiatan di luar sama teman dan keluarga. 

Tradisi traktir mentraktir ini bisa jadi tuntutan tersendiri gak sih ? 

Sebelumnya ayo kita kenalan dengan tradisi bayar dewe dewe ala luar negeri atau  “lets go dutch” entah darimana istilah ini diambil tapi coba kita lihat lebih lanjut. 

Let’s go Dutch 

Pada beberapa negara seperti Indonesia, sudah menjadi suatu tradisi jika seseorang mengajak terlebih dahulu teman atau saudaranya untuk makan di luar adalah orang yang harus merogoh koceknya dalam hal bayar membayar. 

Disisi lain, orang Belanda memiliki kebiasaan yang sedikit berbeda dengan negara lainnya yaitu mereka terbiasa membayar sendiri-sendiri tagihan. Mungkin ini yang membuat nama ini begitu terkenal “Let’s go dutch atau yuk jadi kaya orang Belanda wkwkwk” 

Meskipun hal ini dianggap kurang sopan jika terjadi di negara lain namun disisi lain, hal ini adalah salah satu tren kesetaraan gender sekitar tahun 1970 an. 

Paham feminisme berpendapat bahwa membayar sendiri tagihan pada saat kencan adalah bukan hal yang begitu penting. 

Idiom go Dutch memiliki kisah historisnya sendiri. Salah satu kisah yang dapat dijadikan padanan adalah Satanstoe milik James Fenimore Cooper pada tahun 1845. Kisah tersebut terjadi di New York sekitar tahun 1757 atau 1758. 

Terdapat tiga orang Belanda yaitu Cornelius Littlepage, Anneke Mordaunt, dan Dirck Follock. Littlepage membayar tiket masuk untuk dirinya sendiri, Mordaunt, dan pelayannya yang kemudian dibayarkan kembali oleh Mordaunt, seharga tiket untuk dirinya dan pelayannya. 

Dalam hal ini, orang Amerika menetapkan frasa go Dutch berdasarkan memori dari hasil mengamati kebiasaan orang Belanda yang sedang berada di Amerika. 

Oxford English Dictionary menghubungkan go Dutch dan frase lainnya sama dengan sindiran penghinaan atau pengejekan yang sebagian besar disebabkan oleh persaingan dan permusuhan antara Inggris dan Belanda di abad ke-17 yaitu pada periode Anglo-Dutch Wars.

Warga Belanda adalah warga yang sangat terbuka dan lugas. Mereka akan sangat mudah bergaul dengan siapapun dan kita dapat berbicara terus terang (blak-blakan) karena mereka tidak akan mudah merasa tersinggung. 

Masyarakat Belanda juga dikenal sebagai masyarakat yang memiliki rasa toleransi yang cukup tinggi sehingga dapat membuat kebijakan yang cukup bersifat bebas. 

Dalam aspek kehidupan lainnya, kita akan mudah mendapat contoh beberapa toleransi seorang guru di Belanda. Mereka dapat dengan sangat mudah dihubungi dan menjadi teman bicara yang baik bagi muridnya.

Semua karakteristik dasar masyarakat umum Belanda yang telah disebutkan sebelumnya juga membentuk sikap hemat. 

Dalam bahasa Belanda dikenal elk dubbeltje tweemaal om keren yang artinya ‘putar koin dua kali sebelum berpikir untuk membelanjakannya’, artinya coba berpikirlah lagi dengan bijak untuk membelanjakan uang.

Jangan lihat orangnya namun lihat apa yang dikatakan dan diajarkannya padamu, tampaknya hal ini berlaku untuk Belanda. 

Sesuatu yang dapat kita pelajari dari Belanda adalah hidup hemat, berpikiran terbuka, toleransi, terbuka dan juga lugas.  

Kembali lagi dari sifat masyarakat Belanda yang tidak mudah tersinggung, kini di masa modern “let’s go dutch” menjadi “Slank Verb” yang banyak digunakan orang jika ingin bayar dewe dewe atau sendiri sendiri. 

Semoga kamu, teman dan kerabat bisa menjadi lebih luwes untuk masalah simple dan jangan sampai hal sepele seperti ini merusak nilai hubungan kalian.

Menurut kamu apakah trend “let’s go dutch” akan berkembang di Indonesia ? 

Maka jawabannya akan ada di diri kamu sendiri, mengingat masyarakat dibangun atas kumpulan individu yang berpikir dan berkembang mengikuti zamannya. 

Rio Aditya Ermindo

Rio Aditya Ermindo

Follow my instagram @rioadityae

Leave a Reply