Saham IPO dan Fluktuasi Nya

214 0

Terkadang penonton pertandingan bola merasa lebih ahli dibanding pemain dan pelatih sepak bola di lapangan — RMND

Pasar keuangan di Indonesia sedang diramaikan oleh IPO Bukalapak yang merupakan salah satu perusahaan startup e-commerce tanah air. Tercatat saham IPO yang dilakukan Bukalapak tersebut menjadi IPO terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pada IPO Bukalapak kemarin, tercatat Bukalapak mendapatkan suatu pencapaian yang cukup fantastis yaitu kenaikan harga saham sebesar 25% dari harga IPO. Jika dilihat lebih lanjut hal ini disebabkan animo masyarakat yang begitu tinggi bahkan masih tersisa lot permintaan dari masyarakat yang belum selesai. 

Muncul pertanyaan di benak kita semua, sebenarnya apa yang membuat kenaikan suatu saham begitu tinggi dan dalam waktu yang cukup singkat ? 

Pertama, harus kita pahami bersama saham adalah instrumen investasi yang menunjukkan bukti kepemilikan perusahaan sesuai dengan porsi saham yang kita miliki. Anda dapat bayangkan sedang berinvestasi di sebidang tanah bersama rekan partner anda, masing masing menyetorkan Rp 10 untuk mendapat tanah seluas 1.000 M2 senilai Rp 1.000.

Maka pada investasi yang anda lakukan di sebidang tanah tersebut anda memegang porsi sebesar 1% (Rp 10/ Rp 1.000 X 100%).

Selanjutnya, kenaikan harga saham dapat banyak dipengaruhi oleh berbagai macam latar belakang mulai dari social, politik, trend bisnis hingga ekonomi. Namun secara garis besar kenaikan harga saham dipengaruhi oleh faktor teknikal dan fundamental. 

Kenaikan harga saham secara fundamental, menunjukkan bahwa harga saham perusahaan dipengaruhi oleh kinerja perusahaan yang dihasilkan. Kenaikan harga saham secara fundamental dipengaruhi oleh indikator keuangan yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut.

Grape Field Illustration Unsplash.com

Sekarang bayangkan, uang sebesar Rp 10 yang anda investasikan di tanah dengan luas 1.000 M2 bersama rekan dan partner anda di daya gunakan menjadi kebun anggur. Setelah satu tahun berjalan ada keuntungan tertahan untuk dibagikan ke investor sebesar Rp 200. 

Dengan keuntungan sebesar Rp 200 maka anda sebagai pemegang saham 1% berhak mendapatkan dividen sebesar Rp 2. Maka dengan harga Rp 10 dan dividen Rp 2 price earning ratio yang dihasilkan adalah 5 ( Price Earnings Ratio = Harga saham / dividen ). 

Jika dibandingkan dengan PER rata rata bidang usaha perkebunan yang listing di bursa sebesar 32 kali, harga saham di perkebunan anggur milik anda masih tergolong sangat murah dan hal ini akan mengundang ketertarikan investor lain untuk berinvestasi di saham perusahaan perkebunan yang anda miliki. Investor yang aktif berinvestasi ke saham dengan karakteristik seperti itu disebut investor value investing. 

Seiring berjalannya waktu harga saham perusahaan anda akan naik menyesuaikan dengan range PER yang dimiliki perusahaan sejenis di bursa, potensi kenaikan harga saham yang anda miliki akan cukup significant ke rentang harga Rp 60 – Rp 65 atau hampir 600%. 

Kenaikan harga saham secara teknikal, menunjukkan bahwa harga saham dipengaruhi oleh animo masyarakat terhadap saham dalam rentang waktu yang cukup singkat. Animo masyarakat tidak akan muncul begitu saja namun animo masyarakat muncul akibat pemberitaan atau bahkan kabar burung mengenai prospek perusahan. 

Sekarang bayangkan, uang sebesar Rp 10 yang anda investasikan di tanah dengan luas 1.000 M2 bersama rekan dan partner anda di daya gunakan menjadi kebun singkong. Setelah satu tahun berjalan ada keuntungan tertahan untuk dibagikan ke investor sebesar Rp 10.

Namun setelah anda datang ke kebun yang anda miliki untuk mengambil deviden, anda melihat pembangunan jalan tol persis disamping lahan milik anda dan partners. Tersiar kabar bahwa lahan yang anda miliki akan dipergunakan untuk pembangunan shopping center karena lokasinya yang strategis. 

Secara fundamental perkebunan singkong yang anda miliki tidak memberikan pendapatan yang significant namun memiliki prospek yang sangat baik, hal ini akan mengundang respon oleh para investor di bursa untuk berinvestasi di perusahaan perkebunan yang anda miliki bersama partners. 

Karena jumlah saham yang terbatas namun memiliki demand yang sangat tinggi maka kenaikan harga saham pun tidak dapat dielakkan. Hal yang sama terjadi pada saham bank yang bertransformasi menjadi bank digital, dan mengalami peningkatan harga secara significant 

Pada dasarnya kenaikan harga saham beberapa saat setelah IPO hampir tidak dapat dihindari. Hal ini didorong dari harapan dan spekulasi di tengah masyarakat bahwa saham perusahaan yang sedang melakukan IPO adalah perusahaan yang sangat profitable. 

Maka beberapa investor di bursa, merasa tidak ingin ketinggalan momentum untuk memiliki saham perusahaan, praktis hal ini memunculkan demand yang besar dan mengerek harga saham.

Namun, pada akhirnya saham perusahaan yang melakukan IPO harus menyesuaikan dengan rentang harga yang dimiliki emiten serupa di Bursa. Karena investor tentu tidak ingin berlama lama memegang saham yang tidak memberikan benefit baik berupa capital gain maupun deviden. 

Menganalisa saham secara mandiri satu per satu memang tidak praktis, namun membeli saham hanya berlandaskan trend dan masukan orang lain pun tidak bijak. — RMND

Rio Aditya Ermindo

Rio Aditya Ermindo

Follow my instagram @rioadityae

Leave a Reply