Pelajaran dari Kasus Jouska

199 0

Terkadang penikmat sepak bola di luar lapangan, merasa lebih pandai. Dibanding dengan bintang bola dan pelatih yang bermain di lapangan —RMND

Kasus Jouska yang sedang heboh belakangan, tidak ada yang lebih tahIu secara mendalam dan terstruktur. Dibanding dengan nasabah dan pihak pengelola keuangan (Jouska)

Kita hanya melakukan penilaian sebagai pihak ketiga, yang kita dapatkan dari portal berita hingga ruang publik seperti kompasiana.

Masalah yang dialami jouska adalah masalah yang sudah umum terjadi dalam dunia investasi, di mana harga barang yang kita investasikan dapat berpeluang naik dan turun.

Dengan melakukan investasi, kita menukarkan capital/modal yang kita miliki dengan barang yang kita yakini dapat menjaga daya beli atau bahkan memberikan keuntungan di masa yang akan datang.

Dengan berinvestasi kita dihadapkan dalam dua sisi mata uang, di mana semakin tinggi potensi keuntungan maka semakin tinggi pula resiko kehilangan.

Maka di mana kita berinvestasi akan selalu diikuti oleh potensi resiko. Semisal kita sedang berinvestasi ke dalam logam mulia, apabila kita langsung menjualnya dalam kurun waktu seminggu*.

Bukan untung yang kita dapat, justru kita akan dibebani beberapa potongan “administrasi” sehingga nilai investasi yang kita tanamkan mengalami penurunan.

Sama halnya dalam berinvestasi ke sektor keuangan (saham), harga saham yang unpredictable. Hal ini akan mengakibatkan investasi di sektor keuangan (saham) memliki potensi resiko dan keuntungan yang besar.

Untuk menghindari praduga yang terlalu luas, maka kita akan melihat Jouska dan nasabah secara normatif. Jouska bertindak sebagai financial planner dan nasabah sebagai investor.

Banyak sekali “faktor” penentu pergerakan harga saham. Orang yang sudah berkecimpung lama di pasar saham pun tidak terlepas dari resiko kerugian.

Sebagai financial planner, Jouska seharusnya bisa lebih transparan dengan analisa yang dilakukannya dalam merekomendasikan saham dan harus memberikan rekomendasi lanjutan. Apakah saham tersebut dimasukkan dalam kategori investasi jangka panjang, menengah atau pendek.

Lebih lanjut Jouska, juga sebaiknya melakukan update kondisi terbaru. Di mana itu akan memberikan informasi kepada investor. Kapan investor harus masuk berinvestasi di saham tertentu, dan kapan investor harus menjual sahamnya.

Kita memahami kenapa investor, dalam hal ini terlalu confidence terhadap nasihat yang diberikan oleh financial planner.

Karena financial planner dianggap pihak yang lebih mengetahui mengenai investasi. Di luar itu semua, financial planner juga manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan dalam analisa.

Image : Unsplash.com @officestock

Sebagai investor, setelah menerima nasihat untuk berinvestasi di saham tertentu. Investor harus dapat melakukan penilaian ulang rekomendasi—RMND

Investor harus memiliki alasan yang jelas dan meyakinkan untuk membeli saham, bukan hanya ikut trend atau ikut ikutan. Berikut adalah sedikit masukan untuk investor dalam memilih saham:

Pemilik saham mayoritas

Dengan kita mengetahui siapa pemiliki saham mayoritas, maka kita bisa memprediksi mau dibawa kemana perusahaan, karena kita sebagai investor ritel tidak memiliki kuasa untuk menentukan arah perusahan.

Membagikan laba atau deviden

Perusahaan yang membagikan deviden, menunjukkan bahwa perusahaan layak secara financial. Dengan layak secara financial, maka perusahaan memiliki prospek keberlangsungan dan jauh dari kebangkrutan.

Gunakan Google

Di zaman yang modern, hampir semua tercatat jelas di dalam google. Kita dapat cek apakah perusahaan yang menjadi tempat investasi kita memiliki problem sebelumnya, dan cek juga background pemilik saham.

Bidang Usaha

Perusahaan yang akan kita investasikan tidak lepas dari bidang usaha yang mereka jalani. Cek lah apakah bidang usaha mereka masih sustainable atau tidak kedepannya.

Dengan melakukan pengecekan sederhana, tentang perusahaan yang sahamnya menjadi tempat kita berinvestasi. Hal sederhana ini bisa dilakukan oleh semua kalangan karena mengandalkan google.

Maka investor sendiri akan menjaga dirinya dari kebangkrutan. Pasar saham pun akan menjadi tempat yang kondusif untuk berinvestasi.

Ekosistem yang baik di bursa tentu saja akan mendukung menjaga ke makropurensial system keuangan, dengan itu banyak pihak yang diuntungkan baik investor maupun perusahaan di Indonesia

Bersama kita dapat meningkatkan mawas diri, dan bersama kita menuju kesehatan financial yang baik. Karena aspek keuangan adalah satu satunya aspek kehidupan yang tidak dapat dihindari dari kita semua.

Catatan:
Dalam berinvestasi ke sektor keuangan ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan investor. Beli saham yang anda ketahui bidang usahanya, beli di harga dibawah harga wajar (margin of safety), dan jual saham diatas harga wajar —RMND

Rio Aditya Ermindo

Rio Aditya Ermindo

Follow my instagram @rioadityae

Leave a Reply