Novel : Murphy Chapter 6, An Apology

152 0

Chapter 6 : An Apology

Karan menunjukkan layar ponselnya kepada Murphy. Murphy mengangkat kedua alisnya.

“Ini beneran lo?” tanya Karan.

Murphy tersenyum kecut dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Hmm.. iya. Terus kenapa?”

“Wuahhh gila! Lo beda banget sama yang di foto ini,” ucap Karan seraya menatap postingan foto Murphy di media sosial Instagram-nya.

“Kamu nyuruh aku ke halaman belakang sekolah ini cuman buat nanyain itu?” timpal Murphy dengan malas.

“Ya enggaklah. Lo inget kan? Lo masih punya hutang sama gue.”

“Hutang? Hutang apa?”

“Lo bilang, lo bakal nurutin semua permintaan gue. Gue mau nagih utang itu.”

Murphy menghembuskan napas malas. “Ya udah kamu mau apa?”

Karan tersenyum. “Mulai hari ini, lo harus beliin gue makanan pas istirahat.”

“Itu doang?”

Karan mengangguk. “Jangan bilang lo gak mampu.”

Murphy memperbaiki kacamatanya. “Oke!”

“Ya udah, beliin gue makanan gih, anterin ke sini.”

“Ish harus banget dianterin ke sini, gitu?” Karan mengangguk. “Gak, males!” tambahnya kemudian ikut duduk di sebelah Karan.

“Ya udah gue share sekarang foto lo.”

Murphy segera berdiri. “Ya udah iya. Tungguin di sini!” Tanpa menunggu respon, Murphy langsung berjalan meninggalkan Karan dengan kesal. Karan menyeringai melihat tingkah Murphy yang terlihat sedang kesal pada dirinya.

Sesampainya di depan kantin, langkah Murphy terhenti. Ah aku lupa lagi gak nanyain dia mau makan apa. Batinnya. Dia pun mengeluarkan ponselnya dan segera menelepon Karan sembari berjalan. Dengan hitungan detik, teleponnya diangkat.

“Kamu mau makan ap-“

Brukkkk!!!

Ponselnya terjatuh. Orang yang menabraknya pun terjatuh. Tepatnya seorang perempuan yang menubruk Murphy atau mungkin tertubruk Murphy terjatuh. Perempuan itu merapikan seragamnya dan segera berdiri menatap Murphy dengan tajam.

“Lo berani ya nabrak gue!” teriak perempuan itu. Sontak orang-orang di sekitar mereka mulai memperhatikan.

Murphy menunduk. Dia melihat atribut yang berlambang ‘XI’ di seragam perempuan itu. “Ma-maaf, Kak, aku gak sengaja.”

“Gak sengaja? Mana ada maling ngaku. Mana ada orang bilang itu sengaja!” teriaknya lagi.

Teman di samping perempuan itu berbisik. “Frasa, ini katanya orang yang pas kegiatan MOS dia kabur.”

Frasa mengangkat sebelah alisnya dan menatap penampilan Murphy dari atas hingga bawah. Rambut diikat satu, kacamata oval, dan seragam kebesaran. Frasa tersenyum kecut melihat penampilan Murphy yang menurutnya begitu aneh.

“Ma-maaf Kak, sekali lagi aku gak sengaja,” ucap Murphy kemudian berusaha mengambil ponselnya yang jatuh. Namun gerakannya tak kalah cepat, teman Frasa berhasil lebih dulu membawanya.

“Ups, keduluan hehe,” ejek Rebecca.

“Kak, aku minta maaf sekali lagi,” pinta Murphy ketakutan. Para siswa mulai berdatangan dan mulai mengerubuni mereka.

Frasa merebut ponsel Murphy dari tangan Rebecca. “Waw iphone 8 plus dong!” ejek Frasa sambil melihat-lihat ponsel Murphy.

Satu hal ketakutan Murphy yang lain. Yaitu Frasa akan membuka isi ponselnya dan duarr, semua penyamarannya gagal. Karena di dalam ponselnya ada banyak sekali identitas asli dirinya.

“Kak, aku mohon balikin ponsel aku Kak,” pinta Murphy lagi.

“Hp ini? Lo mau gue balikin hp lo?” celoteh Frasa dengan tatapan mengejek.

“Iya Kak, aku mohon.” Murphy kembali memohon.

“Boleh. Asal lo harus cium sepatu gue dulu,” celetuk Frasa seraya menunjuk sepatunya. Rebecca tersenyum mengejek dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“A-apa kak?” tanya Murphy terkejut dengan permintaan kakak kelasnya.

“Apa? Perlu diulangi? Gue bilang, cium sepatu gue.” Murphy terdiam dan masih menunduk. Dia juga masih punya harga diri.

“Kenapa diem? Gak mau. Ya udah gue buka ponsel lo dan nyari tau apa isinya. Atau gue buang aja ya?” ejek Frasa lagi.

“Ja-jangan kak. Aku mohon.”

“Ya udah, cium sepatu gue sekarang!” teriak Frasa yang membuat Murphy sedikit terguncang.

“Lo gak denger apa kata temen gue? Cepetan sekarang!” teriak Rebecca.

Pelan-pelan Murphy mulai menunduk dan dengan ragu mencoba mencium sepatu Frasa. Frasa dan Rebecca yang melihat itu tertawa menyeringai. Namun tawa mereka terhenti, ketika ada satu tangan yang menghentikan Murphy. Frasa dan Rebecca melongo.

“Bangun. Gue bilang bangun Murphy!” sergah Esther dengan tegas. Murphy mulai berdiri dan kembali menunduk.

Esther memegang lengan Murphy dan segera merebut ponsel Murphy dari tangan Frasa. “Gak bosen-bosen lo ya bikin ulah terus!” ucap Esther tegas.

“Ya salah dia ngapain nubruk gue!” sergah Frasa tak mau kalah.

“Lo gak denger? Dia udah minta maaf berulang kali!” timpal Esther.

Frasa tertawa. “Maaf juga gak cukup! Dia udah bikin gue jatuh ke lantai!”

Esther mulai melangkah mendekat, menatap Frasa dengan tatapan tajamnya. “Sebuah maaf aja gak cukup, kalo hati dan hidup lo sedang bermasalah!”

Jleb! Frasa terdiam. Tak bisa menjawab atau pun melawan. Esther memegang lengan Murphy erat dan segera mengajak Murphy pergi dari kantin. Frasa menghentakkan kakinya. Dia sangat merasa kesal sekarang.

Murphy melepaskan tangannya dari genggaman Esther. Esther berbalik dan menatap Murphy. “Kenapa kamu lakuin itu?”

“Yang harusnya nanya itu aku. Kenapa kamu mau disuruh-suruh sama mereka?” tanya balik Esther.

“Ya aku gak mau identitas aku kebongkar lagi.”

“Itu semua udah gak penting lagi, Murphy! Yang penting itu harga diri kamu!”

“Aku gak peduli! Harga diri aku udah ilang ketika kejadian di pernikahan ayah.”

“Seenggaknya kamu gak ngelakuin itu pas kamu lagi menyamar, Murphy!” Murphy terdiam.

“Kamu bilang, kamu mau merasakan sekolah seperti biasanya dengan menyamar. Tapi kamu justru malah merusaknya dengan ngelakuin itu!”

“Terus aku harus apa? Aku harus apa ketika penyamaran aku akan kebongkar. Aku harus apa?”

“Mereka gak bakalan kasih hp kamu meskipun kamu berlutut sekali pun.”

Murphy terdiam. “Terus kamu ngapain di sini? Aku udah bilang kan, jangan kenal aku di sekolah, jangan panggil aku, jangan-“

Esther langsung memeluk Murphy dan berbisik. “Itu udah gak ada gunanya lagi sekarang, Murphy. Kamu itu sodara aku, adik aku. Dan akan selalu begitu, Murphy.”

Murphy melepaskan pelukan Esther. “Ada. Ada gunanya. Kalo kamu sodara aku, please jangan buat aku dimarahin ayah dan ibumu lagi karena kamu ngebela aku. Jadi aku mohon, biarin ketika di sekolah seakan-akan kita gak pernah kenal. Aku mohon,” ujar Murphy. Dia mengambil ponselnya di tangan Esther dan segera pergi meninggalkannya.

Esther menarik napas berat. Dia bingung, apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia pun berjalan, dan mulai melangkah pergi dari rooftop.

Seseorang di balik kursi panjang berdiri. “Oh jadi kalian itu adik kakak,” lirihnya pada diri sendiri dan kemudian tersenyum menyeringai.

Leave a Reply