Novel : Murphy Chapter 5, Library

192 0

Chapter 5 : Library

Empat hari, selama empat hari berturut-turut SMA Beverly Elite mengadakan MOS bagi kelas 10. Dan selama empat hari itu yang awalnya berita Murphy kabur ketika MOS hanya menyebar ke angkatan ke-10, sekarang sudah menyebar ke semua warga sekolah.

Setiap orang yang dilewati Murphy berbisik-bisik. Membully nya, keculunannya menambahkan bahan ejekan tersendiri terhadapnya. Dan Esther hanya menatap itu dari jauh. Tak bisa membela, atau tak bisa menemani Murphy di saat-saat seperti itu.

Murphy mengelap air matanya. Sudah dua malam berturut-turut dia menangis sebelum tidur. Semenjak kejadian di hari pertamanya sekolah, esoknya ayahnya tak mau sarapan bersama Murphy. Tak mau melihat wajahnya. Ketika berpapasan pun ayahnya diam seakan-akan Murphy tak kasat mata. Sebenci itukah ayahnya kepadanya?

Murphy membuka pintu kamar dan berjalan menuju kamar Esther. Dia mengetuk pintunya, kurang dari satu menit, Esther membuka pintu. Dan kaget dengan siapa yang datang. Selain dengan ayahnya, Murphy juga tidak bicara dengan Esther. Apalagi Alison.

“A-aku mau ngomong sama kamu,” ucap Murphy.

Esther melihat mata sembap Murphy. Dia tahu, sudah beberapa hari ini adik tirinya selalu menangis. Esther menarik napas dan menarik tangan Murphy untuk masuk. Kemudian menutup pintu kamarnya.

“Mau ngomongin apa? Oh ya, kamu udah mutusin belum mau masuk estkul mana di sekolah? Ya meskipun belum demonstrasi, kamu seenggaknya bisa mem-“

“Aku mau kamu pura-pura gak kenal aku di sekolah,” sela Murphy membuat Esther terdiam.

“Ma-maksud kamu apa?” tanya Esther.

“Ketika di sekolah, jangan menyapa aku, jangan deket-deket aku, jangan manggil aku. Pokoknya jangan bertingkah seakan-akan kamu kenal sama aku,” ujar Murphy menahan diri untuk tidak menangis.

“Tapi kan kamu itu sod-“

“Aku mohon, lakuin itu. Kalo enggak, aku bakalan jauhin kamu, baik di sekolah atau pun di rumah,” lirih Murphy. Dan tanpa menunggu respon Esther, Murphy langsung berlari menuju pintu dan keluar dari kamar Esther menuju kamarnya sendiri.

Esther menghembuskan napas berat. Dia mengusap puncak kepalanya. “Gak gitu juga caranya, Murphy,” batinnya dalam hati.

Dan ini adalah hari ke-lima Murphy sekolah di jenjang baru. Seperti biasa, dia bangun pagi, sarapan paling awal agar tidak bertemu ayahnya, dan berangkat sekolah paling awal. Sebelum bel berbunyi, Murphy mengunjungi perpustakaan, tradisi dia sedari SD, untuk mengisi waktu sendiriannya.

Suasana sekolahnya masih sepi. Murphy berjalan melewati setiap lorong, menuju perpustakaan. Untungnya, perpustakaan sekolahnya selalu buka pagi-pagi sekali. Murphy menyapa Bu Elis, penjaga perpustakaan.

“Pagi, Bu,” sapa Murphy dengan senyuman lebarnya.

“Pagi, nak Murphy,” jawab Bu Elis.

“Bu, hari ini boleh pinjam empat buku gak, Bu? Sekalian mau dibawa ke rumah juga,” ucap Murphy.

“Emangnya gak berat ya bawa buku segitu banyaknya?” tanya Bu Elis.

“Ah cuman empat kok, Bu,” bujuk Murphy. Lagian, hal apalagi yang dia bisa lakukan di rumah selain membaca? Membaca saja sudah dimarahi ibu tirinya, malas-malasan apalagi.

“Ya udah boleh deh. Nanti tulis aja ya nama kamu di kartu belakang bukunya, terus laporan juga ke ibu buku apa aja yang dipinjam,” tutur Bu Elis.

“Iya, Bu.”

“Loh emangnya kenapa gak di sini aja bacanya?”

“Bakal tetep di sini kok, Bu bacanya. Cuman pinjem bukunya buat di rumah,” jawab Murphy. Bu Elis mengangguk.

Murphy pun berbalik hendak berjalan menuju bangku baca. Tapi dia melihat seorang lelaki yang sedang membaca buku di sana. Padahal biasanya, hanya Murphy dan Bi Elis yang di sini pagi-pagi. “Itu siapa ya, Bu?”

“Oh itu Reyno, dia emang sering ke sini pagi-pagi,” jawab Bi Elis.

“Tapi, dari hari Senin sampe kemarin kok gak ada?”

Bi Elis menggeleng. “Gak tau juga, biasanya suka ke sini pagi-pagi. Dia ngelakuin ini dari dia masih kelas 10.”

Murphy manggut-manggut. Dia pun berjalan menuju rak buku dan mengambil satu buah buku untuk dibacanya pagi ini. Lalu duduk di bangku yang berjarak lima bangku dari tempat duduk Reyno. Setelah itu dia mulai membacanya.

Selesai membaca 2 halaman, Murphy menengok ke tempat duduk Reyno. Kosong. Ke mana dia?

“Hei!”

Murphy kaget, dia menengok ke belakang, dan ya, Reyno sedang berdiri di belakangnya.

“Nyari siapa?” tanyanya.

“E-enggak kok kak. Gak nyari siapa-siapa,” jawab Murphy dengan gugup.

Reyno manggut-manggut dan duduk di sebelah Murphy. “Oh jadi ini alasan lo suka telat masuk kegiatan MOS? Karena baca di perpus?”

“Hehe iya, Kak.”

“Lo, lo ganti frame kacamata?”

Murphy kaget dan tersipu. Kok bisa-bisanya Reyno memperhatikan penampilannya hari ini? Ada apa?

“Oh, jelek ya?”

“Gue gak nyebut ya, lo aja yang nyadar sendiri.”

“Ih nyebelin,” gerutu Murphy

“Apa? Gak sopan ya lo nyebut gitu ke kakak kelas!”

“Eh eh maaf, Kak.” Murphy menunduk. Sedangkan Reyno cekikikan.

“Enggak kok, gue becanda. Sans aja, ini kan udah di luar kegiatan MOS.”

Murphy tersenyum canggung. Untung ganteng. Batinnnya.

“Udah mutusin mau masuk estkul apa?” tanya Reyno lagi.

Ternyata, Reyno lebih ramah dibanding perkiraan Murphy selama ini. Murphy tersenyum. “Belum kepikiran, Kak.”

Reyno mengeluarkan sebuah kertas di saku seragamnya. “Nih, kalo lo mau masuk OSIS, lo bisa hubungin nomor gue.”

Wait, aku dikasih nomor telepon Kak Reyno dengan semudah ini? Batin Murphy. “Eh beneran nih, Kak?” Reyno mengangguk. Murphy mengambil kertas bertuliskan nomor Reyno. “Makasih ya, Kak.”

“Iya. Kalo ada yang ditanyain, lo bisa hubungin gue. Ya udah gue ke kelas dulu ya.”

“Iya, Kak.” Reyno pun beranjak dari duduknya dan berjalan ke luar perpustakaan.

Murphy menatap punggung lebar Reyno yang berjalan semakin menjauh.

Triinggg!!!

Ponsel Murphy bergetar. Murphy membukanya, melihat ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Lo lagi di mana? Ada yang mau
gue tanyain
Karan.

Leave a Reply