Novel : Murphy Chapter 4, Bad Day

58 0

Chapter 4 : Bad Day

Whatt?!!” Murphy berteriak dan berusaha merebut ponsel Karan. Tapi tubuh Karan yang tinggi berhasil menghindar darinya.

Murphy kalap, dia pasrah. Dia duduk dan berlutut dihadapan Karan sambil menyatukan kedua tangannya. Karan yang sedang menatap ponsel langsung mengalihkan perhatiannya kepada Murphy.

“Aku mohoon, jangan kasih tau yang lain. Aku bakalan ngelakuin apa pun yang kamu suruh, asal jangan bocorin identitas asli aku. Aku mohon. Sangat mohon kepadamu,” pinta Muprhy sambil menutup matanya.

Karan tersenyum. Dia mengangkat kepalanya. “Oke!”

Kepala Murphy menengadah ke atas dan menatap Karan. Dia berdiri. “Makasihhh, makasihh banyak.”

“Oke, untuk yang pertama. Lo harus jawab pertanyaan gue. Kenapa lo bisa ada di sini?” tanya Karan seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Mmm.. untuk bagian itu, sorry aku gak bisa jawab,” elak Murphy. Dia tak bisa membocorkan rahasia terbesarnya selama ini.

“Oke, gue bakal share foto lo di medsos,” ujar Karan seraya membuka ponselnya.

“O-oke! Aku bakal jawab pertanyaannya. Tapi aku minta kamu juga rahasiain ini. Aku juga gak yakin kamu bakal percaya atau enggak,” ucap Murphy sedikit gugup.

Karan mengangguk. Dia berjalan menuju sofa dan duduk di sana. “Lo bisa mulai cerita. Tetap di sana, jangan duduk dan jangan deket-deket gue.”

Nyebelin banget sih! Batin Murphy. Dia menelan ludah dan mulai bercerita dari awal dia berubah sampai kejadian hari ini. Antara percaya atau tidak dengan ucapan Murphy, Karan tetap memilih diam dan mendengarkan sampai selesai.

“Begitu ceritanya.” Murphy selesai bercerita. Karan menarik napas berat. Mencoba menyimpulkan semuanya yang menurut dia itu sama sekali tidak masuk akal.

“Ya, meskipun terdengar tidak masuk akal. Kita liat aja nanti. Lo bilang lo berubah setiap satu bulan sekali dalam satu hari. Kalo bulan depan lo gak berubah, berarti lo udah bohongin gue,” ujar Karan masih tidak begitu percaya.

“Itu bagus dong, berarti aku udah sembuh,” timpal Murphy tidak mau kalah.

“Iya antara lo sembuh atau lo bohong,” elak Karan tak mau kalah juga.

“Oke whatever.” Murphy pasrah dan memilih mengalah.

By the way, kalo seandainya lo bener, lo udah cerita ke siapa aja selain gue?”

“Kamu doang. Itu juga kepaksa.”

“Termasuk lo enggak cerita ke sodara lo yang siapa itu namanya, gue lupa.”

“Esther.”

“Ya, Esther. Lo gak cerita sama dia?”

Murphy menggeleng. “Aku takut dia juga gak bakalan percaya sama aku, dan akhirnya ngejauh.”

“Malang juga ya hidup lo,” ucap Karan blak-blakan lagi.

Murphy tertawa. “Maybe.”

Mereka terdiam. Tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

“Oh ya udah aku pulang dulu ya, di rumah kamu ada siapa? Ga papa kan aku lewat pintu depan?” tanya Murphy. Dia harus kembali pulang, meskipun resikonya adalah terkena amarah dari ayahnya lagi.

“Gak, gak ada siapa-siapa kok di bawah, lo turun aja,” jelas Karan.

“Oh ya udah. Aku balik dulu ya,” ujar Murphy.

Murphy melangkah menuju pintu. Karan mengusap wajahnya. “Tunggu.” Murphy berbalik. “Gue anterin lo pulang, udah malem.” Murphy terdiam menatap Karan dan pelan-pelan tersenyum.

Motor berhenti. Murphy segera turun dari motor Karan. Dia berbalik. “Thanks ya,” ucapnya seraya tersenyum.

“Lo jangan berpikiran aneh-aneh ya karena gue nganterin lo,” ujar Karan. Murphy tersenyum dan mengangguk. “Eh ini kacamata lo, kacamata palsu lo,” tambah Karan seraya menyerahkan kacamata oval putih kepada Murphy.

Murphy tertawa dan mengambil kacamatanya. “Oke thanks ya. Mau mampir dulu?”

Karan menggelengkan kepalanya. “Gak usah, gue langsung balik aja.” Murphy mengangguk, Karan segera membalikkan motornya dan langsung melaju. Murphy menarik napas. Dia merapikan baju seragamnya yang masih ia pakai. Lalu berjalan perlahan memasuki rumahnya.

Lampu di rumahnya hampir sudah dimatikan semua. Maklum, pukul sembilan adalah waktu tidur paling awal di rumahnya. Murphy berjalan mengendap-endap. Dia tahu ayahnya pasti belum tidur. Tanpa menimbulkan suara, dia berjalan menuju kamarnya. Berharap tak menabrak benda apa pun yang bisa terdengar berisik.

Dalam satu detik, semua lampu di rumahnya dinyalakan ketika dia mencoba melangkah ke tangga. Murphy menurunkan kembali kakinya. Dan dengan takut dia berbalik ke belakang. Shit! Batin Murphy.

Dilihatnya ayahnya sedang berdiri mematung sembari berkacak pinggang. Ibu tirinya berdiri kebingungan di belakang ayahnya. Dan di belakang Murphy, Esther berlari menuruni tangga kemudian memberhentikan langkahnya ketika dia melihat ayahnya juga.

“Ke mana aja kamu?” tanya Robert tanpa memalingkan tatapan tajamnya dari Murphy.

Murphy menunduk, tidak berani menatap wajah ayahnya. “A-aku minta maaf, Ayah,” lirih Murphy ketakutan.

“Ini udah ke berapa kalinya hah kamu kabur dari sekolah?! Kamu mau jadi apa?! Malu-maluin!!” sergah ayahnya lantang. Mendengar teriakan Robert, semua ART mulai mengintip, termasuk juga Bi Irah.

“Murphy minta maaf, Yah,” isak Murphy mulai menangis.

“Dan kamu tahu, udah berapa kali kamu minta maaf tapi selalu mengulangi kesalahan yang sama?” teriak Robert.

Esther berjalan pelan menuju ayahnya. “Tadi mentor Murphy bilang kal-“

“Diam kamu, Esther!!” sela Robert membuat langkah Esther terhenti. Alison menatap Esther, memberikan kode agar ia tetap diam.

“Oh, apa kamu mau ngikutin ibu kamu? Sering kabur?” ucap Robert merendahkan suaranya.

Murphy mengangkat kepalanya. “I-ibu gak pernah kabur, Yah,” lirih Murphy terisak.

Robert tersenyum kecut. “Tau apa kamu? Bahkan ibumu kabur di hari pernikahannya sendiri! Dan kamu itu sama aja kayak ibumu, gak pernah tanggung jawab!!”

Murphy mengelap air matanya. “Dan Ayah pernah menanyakan alasan Ibu kabur waktu itu? Ayah pernah bertanya kenapa aku kabur? Pernah? Bukan Ibu atau aku yang gak tanggung jawab, tapi Ayahlah yang gak pernah sedikit pun peduli!!” ucap Murphy lalu melengos pergi menuju kamarnya.

Robert menghentakkan kakinya. “Murphy! Suruh siapa kamu ke atas?! Berhenti!!” teriak Robert marah. Tapi Murphy tetap berjalan menuju kamarnya.

“Ish anak itu, gak tau sopan santun!” umpat Alison memanas-manasi.

“Ma..” lirih Esther mencoba menyuruh ibunya untuk tidak berkata seperti itu.

“Apa? Emang bener kan? Ah.. lagian kenapa kamu malah ngebela anak itu?” desis Alison.

Tanpa membantah, Esther melengos pergi berniat mengejar Murphy ke kamarnya. “Esther! Suruh siapa juga kamu pergi! Kedua anak itu sama aja!” umpat Alison lagi.

Esther mengetuk pintu kamar Murphy. “Murphy… kamu gak papa kan?” panggil Esther.

Murphy mengelap air mata di pipinya. “Aku gak papa kok. Tolong biarin aku sendiri dulu. Aku cape, mau istirahat…” lirih Murphy terisak.

Esther menyadari kalau Murphy sedang menangis. “O-oke. Kalo kamu butuh apa-apa, bilang aja ya…” Esther menghela napas, berbalik dan berjalan perlahan pergi dari kamar Murphy. Dia berjalan menuju kamarnya, sementara semakin dia berjalan jauh, tangisan Murphy semakin terdengar kencang, membuat langkah Esther terasa berat.

“Menangislah Murphy, kamu berhak menangis.” Esther menarik napas dan membuka pintu kamarnya. Tidur.

Leave a Reply