Novel : Murphy Chapter 3, Never Considered

71 0

Chapter 3 : Never Considered

Hari tampak gelap. Jalanan pun nampak sepi. Orang-orang mulai berlalu-lalang hendak pulang. Beristirahat dan bercengkrama dengan keluarganya. Namun tidak untuk Murphy.

Dia hanya diam, duduk di loteng rumahnya. Sejak sore dia melihat ayahnya marah-marah karena dia dikira kabur lagi dari sekolah. Sejak siang pun Esther berjalan ke sana ke mari mencari petunjuk tentang dirinya. Menelepon Murphy pun percuma, ketika mengangkat teleponnya, suara Murphy tetap tidak akan didengar. Tak akan pernah, sampai dia kembali terlihat.

Satu hari, hanya satu hari Murphy seperti ini. Satu hari dia tidak bisa dilihat, didengar, diraba dan dirasakan kehadirannya. Satu hari yang begitu menyesakkan dan menderita baginya. Murphy yang malang.

“Esther!!!! Tanyakan kepada semua teman-temannya. Berani sekali dia mencoba kabur lagi, mau jadi apa dia!!” teriak Robert kepada Esther.

“Tidakkah kamu lihat, daritadi anakku cuman menelepon teman-temannya dan bertanya. Ah, si Murphy itu memang sangat merepotkan sekali!” sindir Alison.

Esther berulang kali menelepon teman-temannya, barangkali melihat Murphy. Tapi setiap orang yang dia telepon, tidak ada yang mengenalnya, dan tidak ada yang tahu keberadaannya.

Esther menatap ayah tirinya dan menggelengkan kepalanya. Robert menutup matanya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sudah seharian mereka bersikukuh mencari keberadaan Murphy.

“Sudahlah, biarkan saja anak itu. Ketika dia lelah, dia juga akan balik ke rumah. Memang tidak tau diri anak itu!” umpat Robert.

Melihat itu Murphy hanya tersenyum. Mereka tidak tahu, dari siang dirinya ada di sini, di rumahnya. Bersama keluarganya, tapi malangnya dia tidak dirasakan kehadirannya. Tak terlihat dan tak terdengar kehadirannya.

Robert beranjak dari duduknya dan berjalan memasuki ruang kerjanya. Murphy mengekorinya dari belakang. Robert merebahkan diri di kursi kerjanya. Hening, sunyi, senyap. Robert hanya menatap kosong meja kerjanya. Dalam keadaan seperti itu, Murphy ingin sekali menyelinap dan masuk ke pikiran ayahnya.

Robert diam-diam menangis. “Maafkan ayah, Murphy…” isaknya. Murphy kaget. Baru kali ini dia melihat ayahnya menangis. Dia berjalan dan mendekati ayahnya.

“Maafkan ayahmu ini, Nak. Tak seharusnya ayah begitu keras kepadamu. Maafkan ayah. Pulanglah anakku, pulang…” isak Robert. Hati Murphy tersentuh, tanpa sepengetahuannya, mungkin ayahnya sekhawatir ini setiap dia berubah. Dan berusaha menutupi dengan memarahinya.

Dia mencoba menyentuh bahu ayahnya. Percuma, tangannya menembus tubuh ayahnya. “Ayahh…. Ini Murphy, Murphy di sini, Ayah… hiks hiks….” Murphy mulai menangis.

“Murphy, itukah kamu, Nak?”

Murphy mengangkat kepalanya. Apakah ayahnya merasakan kehadirannya?

“Ayah!! Murphy di sini! Di sini! Di sebelah ayah, di sini!!!” teriak Murphy lagi.

Robert melirik tiap sudut ruang kerjanya. Kosong, hanya dia seorang di sini. Robert menunduk dan mulai menangis lagi. “Pulanglah anakku. Pulanglahh, Nak. Maafkan ayah…!”

Murphy ikut menangis. Kapan semua ini berakhir?

Murphy merasakan panas di tangannya. Satu gejala yang menandakan dia akan kembali terlihat. Tapi hanya satu kekhawatirannya. Di manakah dia akan kembali terlihat? Apakah dia akan pingsan lagi di tempat di mana dia kembali terlihat?

Panas ditangannya mulai menjadi-jadi. Dia menutup matanya tak kuat. Beberapa lama, dia membuka matanya. Kaget bercampur takut. Dia tak mengira bisa berada di tempat ini.

“E-lo ngapain di sini?”

Dalam sekejap, Murphy pingsan.

“Ah segar banget dah kalo udah mandi gini,” lirih Karan pada dirinya sendiri seraya mengelap rambutnya dengan handuk.

Karan membuka pintu kamar mandi dan menutupnya kembali. Ketika berbalik dia langsung melotot kaget.

“E-lo ngapain di sini?” tanya Karan sedikit berteriak.

Murphy dan Karan bertatapan heran. Dalam sekejap, Murphy ambruk ke lantai, pingsan.

Karan melotot. “Woy, lo ngapain ada di kamar gue?” Dia berlutut dan mulai menggerak-gerakkan bahu Murphy.

Dia berlari menuju pintu kamarnya. Terkunci. Berlari melihat jendela, terkunci juga. Lalu bagaimana Murphy bisa datang ke kamarnya?

Karan menghampiri Murphy lagi. Mengibaskan tangan di depan wajah Murphy. Tetap saja, Murphy tetap menutup matanya.

“Ah, gue bisa gila!” umpat Karan. Karan mengangkat tubuh Murphy dan membaringkannya di sofa kamarnya.

Karan membuka kacamata Murphy. Dia mengangkat alisnya. “Uh sepertinya gue kenal wajah ini. Wajah siapaa ya?” Karan mulai memperhatikan wajah Murphy. Berpikir, sepertinya dia pernah melihat wajahnya tanpa kacamata.

Karan mulai mendekat. Dia memperhatikan wajah Murphy dari dekat. Namun dengan sekejap Murphy membuka matanya dan dengan spontan dia berteriak. Karena terkejut, Karan ikut berteriak.

“Ka-kamu ngapain?” lirih Murphy ketakutan dan langsung bangun.

“Lah lo yang ngapain di kamar gue?” tanya balik Karan.

Murphy menatap sekitarnya. Ah, kenapa juga dia bisa ada di sini. Sial memang nasibnya.

“Terus ka-kamu berhak ngelakuin yang tadi ke aku?” ujar Murphy tegas.

“Emang lo juga berhak masuk rumah dan kamar orang sembarangan?” ucap Karan lebih tegas.

Murphy memijit kepalanya. “Sejak kapan aku di sini?”

“Beberapa menit yang lalu. Kok lo bisa ada di sini? Lo mau maling ya? Maling kok pake seragam sekolah, gak pro banget,” cibir Karan.

“Kenapa aku bisa berubah di sini sih, ya ampun,” bisik Murphy kepada dirinya sendiri.

“Hah?”

“Oh enggak, enggak. Ya udah aku pulang dulu ya,” elak Murphy seraya berdiri.

Karan menarik tangan Murphy. “Eh eh seenaknya banget lo ke sini, terus mau balik lagi. Jelasin dulu kenapa lo ada di sini.”

“Mmm.. sorry ya aku buru-buru nih soalnya,” Murphy berusaha mengelak.

“Gak bisa! Enak banget lo ya,” timpal Karan sambil menahan tangan Murphy.

Karan mendekat dan mulai memperhatikan wajah Murphy sekali lagi. Murphy yang ketakutan menelan ludahnya. “Ka-kamu ngapain?”

Karena mulai histeris, Murphy mendorong tubuh Karan. Karan tersenyum menyeringai. “Ah lo mulai berani yaa ternyata.” Karan mulai mendekat lagi.

Pelan-pelan Murphy berjalan mundur, sementara Karan mulai mendekat. Dan sialnya, di belakang Murphy ranjang kasurnya Karan. “Ka-kamu ngapain? Kamu jangan macem macem ya!” ucap Murphy histeris.

Karan mendekati wajah Murphy dan memicingkan matanya. Sementara Murphy terdiam, tidak bisa lagi mundur ke belakang. Dia hanya menatap Karan sambil ketakutan.

Lima cm, jarak wajah Murphy dan Karan sekarang. Karan mulai mencoba mendekat lagi, dan Murphy berusaha menghindar.

Dalam sekejap, tangan Karan melepas ikatan rambut Murphy. Rambut hitamnya mulai tergerai. Dalam sekejap juga Murphy akan jatuh ke atas kasur, dan dengan sekejap Karan menahan dengan tangannya. Mereka diam bertatapan.

Beberapa detik, Karan mengangkat kedua alisnya dan melepaskan tangannya. Dan tubuh Murphy langsung jatuh ke atas kasur. “Arghh…!”

Karan mengambil ponsel dan membukanya. Sementara Murphy langsung berdiri bangun. “Woy tadi kamu ngapain, hah?” protes Murphy.

Karan tertawa. “Heh kenapa kamu ketawa, emang ada yang lucu?!” ucap Murphy mulai kesal.

Karan menunjukkan layar ponselnya kepada Murphy. Murphy langsung diam tak bersuara. “Ternyata bener, lo Murphy anak Duta Besar Indonesia. Pantesan lo bersikukuh merahasiakan singkatan nama lo tadi pas MOS.”

Mati sudah. Penyamarannya terbongkar. Tak bisa lagi baginya untuk mengelak. Mati mati mati. Mati sudah dirinya sekarang.

“Kenapa lo diem? Oh berarti gue bener dong. Hebat juga ya lo pura-pura jadi anak culun. Tapi tetep aja lo gak bisa berhindar dari mata gue yang jeli. Lagian siapa yang gak kenal lo, wajah lo ada di mana-mana. Siapa pun bisa tau penyamaran lo. Cewek aneh lo ya,” ujar Karan sekali lagi blak-blakan.

Cekrek!

Karan memotret Murphy. “Eh eh kamu ngapain lagi?” tanya Murphy.

“Motoin lo, terus share wajah asli lo ke grup MOS. Dan dalam hitungan detik, semua orang bakalan tau siapa lo sebenarnya.”

Leave a Reply