Novel : Murphy Chapter 2, It Happens Again

74 0

Chapter 2, It Happens Again

Napasnya terengah-engah. Murphy melirik jam, sudah menunjukkan pukul 06.30. Bentar lagi bunyi bel! Dia membuka tasnya, dan mengambil kacamata putih bulat dan memakaikannya. Untung hari ini dia mengepang rambutnya, ah penyamarannya akan berhasil pasti.

Murphy memicingkan matanya, terlihat plang ‘SMA Beverly Elite’. “Ayo Murphy, sebentar lagi sampai,” ucapnya kepada diri sendiri.

Murphy kembali berlari dan berniat menyeberang langsung menuju gerbang sekolahnya, karena kecerobohannya dia tidak melihat motor yang akan melintas dengan cepat. Murphy menengok ke belakang, matanya melotot melihat sebuah motor mengebut akan melintas ke arahnya.

“Arrgghhhhhhh!!!” Murphy menutup matanya dan berteriak.

Beberapa lama, Murphy membuka matanya. Motor itu berhenti tepat di depan kakinya. Dia menatap pengendara motor itu. Seorang lelaki yang menggunakan seragam sekolah yang sama dengannya.

Lelaki itu membuka helmnya. Dia mengibaskan jambulnya dan menatap Murphy. Murphy hanya diam melongo melihat pesona lelaki itu.

“Lo gak papa?” tanya lelaki itu.

Murphy tersadar, dia memperbaiki kacamatanya yang melorot. “Ah iya aku gak papa kok.”

“Lain kali hati-hati kalo jalan,” ujar lelaki itu.

Situ juga ngebut bawa motornya. Bukan aku aja yang salah di sini. Batin Murphy. “Iya maaf, aku buru-buru soalnya.”

Lelaki itu turun dari motornya dan menyimpan helm nya. Dia menghampiri Murphy. “Lo calon siswa baru di sini?”

“I-iya,” jawab Murphy dengan gugup.

Lelaki itu mengulurkan tangannya dan tersenyum. “Kenalin, gue Reyno Alviano. Kelas 11 Ips.”

Murphy mengangkat kedua alisnya. Dengan pelan dia menerima uluran tangan Reyno. “Aku Murphy, Murphy J.M.” Reyno mengerutkan keningnya. “Ah maaf aku gak bisa nyebutin nama panjang aku,” tambahnya seraya melepaskan uluran tangan Reyno.

“Nama lo terdengar aneh,” ucap Reyno.

Murphy tertawa. “Oke, aku udah biasa dengar hinaan kayak gitu.”

“Oh gue gak ngehina, nama lo aneh aja. Lo tau kan, di sains juga ada hukum Murphy,” ujar Reyno.

“Ya, aku udah tau itu. Entahlah kenapa orang tua aku ngasih nama aku Murphy.”

Reyno terdiam sejenak. “Mmm.. lo gak bakal masuk nih, Lima belis menit lagi bel. Lo siswa baru udah telat, kan gak lucu.”

“Eh iya.” Reyno segera masuk gerbang disusul Murphy di belakangnya.

Suasana di luar sekolah sudah agak sepi, karena di lapangan sedang bersiap-siap untuk upacara pengibaran bendera di tahun ajaran baru ini.

“Mmm.. lo baris di barisan itu aja,” sahut Reyno seraya menunjuk barisan khusus calon siswa baru. Murphy mengangguk dan segera menghampiri dan memasuki barisan itu.

Reyno menatap punggung Murphy. “Cewek aneh,” lirihnya kepada diri sendiri dan langsung melengos masuk ke barisan.

Setelah upacara, calon siswa baru melaksanakan MOS terlebih dahulu bersama staf dan pengurus OSIS. Mereka disuruh tetap diam di lapangan sebelum masuk ke kelas.

“Halo semuanya. Perkenalkan, nama saya Dimas Farhan. Saya ketua OSIS di sekolah ini. Karena itu, saya adalah penanggung jawab penuh kegiatan ini,” seru Dimas kepada seluruh calon siswa baru.

“Haii adik-adik. Perkenalkan juga saya Reyno Alviano. Saya wakil ketua OSIS di sini,” seru Reyno dengan senyumannya yang lebar.

Di belakang sana, Murphy mengangkat kedua alisnya dan manggut-manggut. Oh waketos toh. Waketos kok datengnya juga telat. Batin Murphy di dalam hati.

Semua staf dan pengurus OSIS di sana pun memperkenalkan dirinya masing-masing.

“Nah, itu semua adalah perkenalan dari kami. Mmm… ketika adik-adik daftar di sini, ada aturan bahwa ketika MOS kalian harus pakai papan nama. Dan tampaknya kalian semua sudah memakainya ya. Ter-“

Dimas menyela ucapan Reyno dan berbisik kepadanya. “Ada dua orang yang gak pake papan nama.”

Reyno menatap Dimas. “Haruskah?” jawab Reyno dengan berbisik lagi.

“Itu sudah perjanjian, yang tidak pakai harus dihukum,” ucap Dimas berbisik-bisik.

Reyno menarik napas panjangnya. Sebenarnya dia tidak terlalu mempermasalahkan itu, toh yang penting mereka hadir di kegiatan ini.

“Ya udah lo aja yang tunjuk mereka,” bisik Reyno lagi. Dimas mengangguk.

“Karena sudah aturannya, bagi calon siswa baru yang tidak memakai papan nama dipersilakan maju ke depan. Jika tidak, akan kami tunjuk dan menyuruhnya ke depan,” teriak Dimas kepada seluruh calon peserta didik baru.

Di belakang sana, Murphy baru menyadari hal itu. Dia sama sekali tidak memakai papan nama. Ah, kenapa juga dia bisa lupa akan hal itu. Dan Murphy tidak mau mengambil resiko mengakuinya.

“Tidak adakah yang mau mengaku?” teriak Dimas lagi. Seluruh peserta didik baru menengok ke sana-sini, mencari siswa yang tidak memakai papan nama.

“Baiklah, akan saya tunjuk,” sahut Dimas. “Kamu!!” teriaknya seraya menunjuk seorang lelaki yang tidak memakai papan nama. Sontak semua yang ada di lapangan menatap lelaki itu. Tanpa ragu, lelaki itu berdiri dan berjalan ke depan.

“Bagus, sangat pemberani sekali ya kamu,” sindir Dimas. “Dan ya, satu lagi. Kamuu!!” tambahnya.

Sontak semua orang melirik Murphy yang diam kebingungan. Mudah sekali dia ketahuan, ketua OSIS itu sangat jeli sekali ternyata. Dengan ragu, Murphy memperbaiki kacamatanya dan berjalan perlahan ke depan.

Murphy menatap Reyno yang juga menatapnya. Ah, kenapa dia sampai bisa lupa membawa papan nama!

“Nama kamu siapa?” tanya Dimas kepada lelaki yang berdiri di sebelah Murphy.

“Karan,” jawab lelaki yang bernama Karan itu.

“Nama lengkap!” timpal Dimas.

“Karan Abhimanyu Viladesh,” jawab Karan.

“Waw, ada anak konglomerat ternyata di sini!” sindir Nency, staf OSIS yang lain.

“Oh ya? Masa anak konglomerat gak bisa beli papan nama,” sahut Fathan yang juga staf OSIS.

“Iyalah, siapa di Jakarta ini yang tidak mengenal keluarga Viladesh!” seru Nency lagi.

“Oke, next. Nama lo siapa?” tunjuk Dimas kepada Murphy.

Murphy meneguk ludahnya. Bagaimana jika dia juga ditanya nama lengkapnya? Mati sudah penyamarannya sekarang.

“Ayo jawab!” suruh Nency sedikit membentak.

“Murphy, Kak,” jawab Murphy pelan.

“Yaelah, nama lengkap, Adek! Nama lengkap!” bentak Fathan.

“Murphy J. M.,” jawab Murphy ragu.

Semua staf dan pengurus osis di sana tertawa. “Lo itu ya, udah culun, nyebelin lagi. Ditanya nama lengkap ya jawab, jangan jadi disingkat lagi!” ucap Nency.

“Maaf, Kak, saya gak bisa nyebutinnya,” ujar Murphy pelan.

Nency tertawa dan mendekati Murphy. “Apa jangan-jangan lo Murphy anak Duta Indonesia itu?”

Degh! Jantung Murphy berdegup kencang. Dia tak mau ketahuan lagi.

Reyno menarik lengan Nency. “Udahlah, biarin aja. Lagian kalo emang dia anak Duta Indonesia, gak mungkin dia seculun ini,” ujar Reyno seraya menatap Murphy.

Murphy mengepalkan tangannya. Untung ganteng, kalo engga aku tonjok muka kamu! Batinnya.

“Ya udah, kalian berdiri di lapangan sambil menghormat ke bendera sampe kegiatan ini selesai. Dan yang lain, bisa langsung ke kelas,” teriak Dimas.

Seluruh peserta didik baru selain Karan dan Murphy berhamburan masuk ke kelas. Sedangkan mereka berdua harus berdiri sambil hormat ke bendera.

Keringat mengalir di dahi keduanya. Tanpa bersuara, hanya diam dan berdiri tegak menghormati bendera. Jika mereka menurunkan tangannya, Gerry, staf osis bagian kedisiplinan akan menghampiri mereka dan memarahinya.

Karan berdehem. “Kok lo bisa diam gitu sih dipermaluin mereka?” tanya Karan memecah lengang.

Murphy diam sejenak. “Hah, maksudnya apa?” ucap Murphy.

“Iya, kok lo diam aja gitu disebut culun atau apalah itu,” ujar Karan.

Murphy tertawa pelan. “Ya mungkin mereka ngomong berdasarkan fakta kalo aku emang culun,” jawabnya.

“Menurut gue enggak sih. Penampilan lo aja yang keliatan culun.”

“Maaf?”

“Maksud gue, wajah lo itu cantik engga, jelek engga, standar lah ya. Cuman penampilan lo nya aja, baju seragam kegedean, rambut dikepang, kacamata bulat, tas gede, ya kayak anak culun aja gimana,” desis Karan blak-blakan.

Murphy tertawa. “Berarti penyamaran aku berhasil,” lirih Murphy pelan.

“Hah?”

“Oh enggak-enggak. Makasih loh atas pujiannya, sangat tidak bermutu.” Karan hanya menjawab dengan tersenyum kecut.

Murphy merasakan dingin ditangannya, jantungnya berdegup sangat kencang. napasnya terasa berat dan sesak sampai-sampai suara napasnya terdengar oleh Karan.

“Lo kenapa?” tanya Karan seraya menatap Murphy.

Murphy sadar, dia akan berubah menjadi tak terlihat sekarang. Ah shit! Dia harus segera kabur dari sini, tidak lucu sekali menghilang ketika ada orang di dekatnya.

“Karan, dengerin aku. Aku harus pergi sekarang,” ucap Murphy terburu-buru.

“Hah?”

“Ini mendadak, Karan. Aku harus pergi sekarang. Aku mohon, bilang ke mentor atau kakak OSIS, kalo aku harus pulang sekarang juga. Kamu bilang aja aku sakit, atau apalah yang masuk akal. Aku mohon sama kamu,” pintanya.

“Lo gila atau apa hah?”

Murphy merasakan tangannya semakin dingin. “Please, Karan. Aku harus pergi, aku harus pergi sekarang juga. Aku mohon sama kamu, aku mohon.”

Tanpa menunggu, Murphy langsung lari meninggalkan Karan yang masih diam melongo.

Karan menghembuskan napasnya. Dia tersenyum kecut. “Emangnya dia gak bisa gitu ngajak-ngajak kalo mau kabur?” ucapnya pada diri sendiri seraya menatap Murphy yang berlari semakin jauh.

Leave a Reply