Novel : Murphy Chapter 1, New Day

181 0

Chapter 1, New Day

Dua pasang mata itu menatap penuh tanda tanya dan rasa penasaran. Dalam diamnya, mereka menuntut ibunya untuk tetap meneruskan cerita. Sang Ibu tersenyum.

“Ibu rasa, ceritanya cukup toh untuk malam ini. Kalian pasti sudah mengantuk,” ucap sang Ibu.

Antonio menggeleng. “Aku gak ngantuk kok, Bu. Lagian ini juga baru jam 8 kan. Lanjut ceritanya dong, Buuu,” rengeknya.

“Tapi jam tidur kalian itu kan jam 8, kalian harus menepatinya,” tutur sang Ibu seraya mengelus puncak kepala Antonio.

Agatha melirik ibunya dengan memasang wajah memelas. “Ibu pleaseeee…! Lanjutin ya…. Agatha janji, besok Agatha bakal makan apa pun yang disiapkan Ibu buat sarapan.”

Sang Ibu memicingkan matanya menatap Agatha. “Bener? Gak bakalan ngerengek minta mie goreng kan?” ujarnya.

Agatha terdiam. Dia menatap wajah kakaknya yang menatapnya penuh permohonan. “Agatha janji, Agatha bakal makan mie cuman sekali dalam 2 minggu aja. Jadi lanjutin ceritanya ya, Bu!”

Sang Ibu terdiam sebentar. “Mmm.. oke! Kita lanjutin ya!” sahut sang Ibu dengan tersenyum.

Antonio dan Agatha berseru penuh semangat. Mereka dengan seksama menatap sang Ibu untuk melanjutkan ceritanya. Sang Ibu menarik napas perlahan. Dan bersiap untuk melanjutkan ceritanya.

“Haiii…!” sapa Esther dengan menyunggingkan senyum lebarnya.

Murphy terdiam menatap Esther lamat-lamat. Kemudian menarik tangannya untuk masuk ke kamarnya.

Esther memasuki kamar Murphy. Dia menatap sekeliling kamarnya yang berantakan. Seperti kapal yang terombang-ambing badai. Dia juga melihat mata sembap Murphy.

Sorry kamarnya berantakan. Suasana nya mengikuti hatiku yang juga sedang tidak baik,” ujar Murphy.

Esther menatapnya pilu. Pertemuan yang tidak mengesankan sama sekali. Dia melihat rambut Murphy yang berantakan, keadaannya yang kacau dan begitu menyedihkan. Esther mendekati Murphy.

“Aku udah denger semuanya kok, Murphy. Jangan segan untuk bercerita kepadaku. Setelah melihatmu, aku yakin kamu gak lakuin itu,” lirih Esther meyakinkan.

Murphy menunduk. “Iya. Kamu mungkin telah mendengarnya atau melihatnya di media. Aku gak peduli omongan mereka, tapi ucapan Ayah begitu melukaiku.”

Esther memegang bahu Murphy. “Kita akan berusaha perbaikin semuanya, oke? Aku yakin suatu saat ayahmu akan mengetahui yang sebenarnya. Aku percaya padamu, Murphy. Kau saudaraku sekarang.”

Murphy mengangkat kepalanya. Menatap Esther. “Ayah kita. Semoga saja ayah kita mengerti dan mengetahui kebenarannya.”

Esther tersenyum. Tak ragu dan segera memeluk saudara tirinya. Kerinduannya kepada adik kandungnya sekarang tergantikan. Dia diberikan kesempatan untuk mendapatkan adik perempuan lagi. Ya meskipun tidak sedarah dengannya, tapi baginya itu sudah cukup berarti.

Hari-hari berikutnya Murphy membaik. Kehadiran Esther baginya, membuat keadaannya sedikit membaik. Walaupun ayahnya belum memaafkannya, dan ibu tirinya yang selalu berlaku tidak adil baginya, tapi Murphy berusaha menerima semua hal itu.

“Kamu SMA di sekolahku saja, Murphy. Dengan begitu, kamu akan tetap mempunyai teman,” ucap Esther kepada Murphy di halaman belakang rumahnya.

“Tapi tetap saja, kita tidak seangkatan, Esther. Kau akan menjadi bahan bullyan juga jika bersama ku,” tutur Murphy tanpa menatap saudaranya.

“Aku sama sekali gak peduli dengan itu semua, Murphy,” ucap Esther. Baginya itu semua tidak menjadi masalah, toh kita hidup tidak bergantung dengan omongan orang lain kan?

Murphy terdiam. Sejak tiga minggu kedatangan Esther, dirinya belum bisa mengatakan kepadanya perihal penyakit, kekuatan, atau apalah itu kepada Esther. Dia takut Esther tidak akan mempercayainya. Hal itu jauh dari kategori hal yang masuk akal.

“Baiklah. Akan kucoba. Tapi mungkin aku harus sedikit mengubah penampilanku. Gimana kalo aku pake kacamata? Orang lain tidak akan terlalu mengenalku kan?” sahut Murphy.

“Mmm.. tetap saja. Nama kamu kan Murphy Jarvierxilia Mellema. Siapa yang tidak mengenal nama itu sekarang? Tetangga kita saja tau nama panjang kamu,” oceh Esther.

Murphy berpikir sejenak. Lalu dia tersenyum. “Tidak kalo aku menyingkat namaku kan? Murphy J. M. Tidak akan ada yang tau kan.”

“Iya sih, meskipun itu ide yang buruk. Tapi kita coba saja,” kata Esther sedikit ragu.

Murphy menarik napas. “Ah, rasanya aku ingin cepat-cepat sekolah,” lirihnya seraya menatap langit.

“Mmm.. aku dengar, kamu selalu menghilang ketika ulangan. Ada apa? Apa kamu punya beban dengan sekolahmu?” tanya Esther ragu.

Murphy terdiam mendengar hal itu. Dia belum yakin untuk memberitahukan yang sebenarnya kepada Esther. “Mmm maaf kalo aku nyinggung kamu. Kalo kamu ada masalah, aku siap dengerin kamu kok. Kamu saudaraku sekarang,” lirih Esther.

Murphy menatap Esther. “Eu.. bagian itu, aku belum bisa menceritakannya kepadamu, Esther. Tapi gak masalah kalo kamu nganggep aku anak yang gak baik, pemalas, atau apalah itu. Aku gak masalah kok.”

“Enggak kok. Aku percaya sama kamu. Orang pasti mempunyai alasannya masing-masing. Apakah hal itu terjadi begitu saja atau-“

“Itu terjadi begitu saja. Aku sama sekali tidak menginginkan kabur atau menghilang dari setiap ulangan. Dari pernikahan Ayah, dari pelajaran olahraga, dari pelajaran sekolah, dari pentas seni. Aku tidak menginginkan untuk kabur sama sekali. Itu terjadi begitu saja,” tutur Murphy seraya menunduk.

Esther terdiam sejenak. “Ah lupakan dengan hal itu. Kita harus menyiapkan untuk sekolahmu kan. Bagaimana jika besok kita belanja keperluanmu?”

Murphy mengangguk. Esther tersenyum. Bagi Murphy, Estherlah yang begitu peduli kepadanya sekarang. Cinta ayahnya kepadanya mulai pudar. Kini ayahnya tidak pernah lagi mengelus puncak kepalanya semenjak kejadian di hari pernikahan itu.

Hari itu tiba. Hari pertama Murphy masuk sekolah di jenjang baru. Suasana ruang makan hening, tidak ada yang berbicara.

“Yakiin gak bakal kabur lagi?” olok Alison, ibu tiri Murphy.

Murphy menghentikan tangannya yang sedang mengoleskan selai pada rotinya. “Ma, Mama ngomong apaan sih?” timpal Esther mengalihkan pembicaraan.

“Loh, Mama kan nanya. Emang Murphy gak bakalan kabur lagi? Ayahmu ini cape loh, Ther, dipanggil terus sama kepala sekolah,” decak Alison.

Murphy menatap ayahnya yang diam tanpa bersuara seraya membaca koran. Dia berharap kali ini dia mendapat pembelaan darinya. Tapi lihatlah, ayahnya sama sekali tidak bergeming. Selera makan Murphy hilang lagi, dia meletakkan sendok selainya. Dan berdiri hendak berangkat sekolah.

Esther menatap Murphy. “Murphy, kamu tungguin di depan ya. Aku mau bawa ponsel dulu yang ketinggalan di kamar.”

Murphy mengangguk dan segera pergi dari ruang makan tanpa pamit kepada ayah dan ibu tirinya. Percuma saja, pamit pun dia tidak akan dapat respon dari ayahnya sedikit pun. Memilukan.

“Lihatlah, dia pergi tanpa pamitan kepada ayahnya sendiri. Anak macam apa dia,” desis Alison pelan tapi terdengar oleh Robert. Dibalik koran itu, Robert mengangkat kedua alisnya dan menarik napas panjang.

Murphy menunggu di halaman depan rumahnya. Setelah berpikir beberapa lama, dia menyadari, ponselnya juga tertinggal di meja makan tadi. Tanpa berpikir lagi, dia berbalik dan segera menuju ke dalam rumahnya.

Langkah Murphy terhenti di depan rumahnya, tepatnya di depan pintu rumahnya. Dia mendengarkan samar-samar pembicaraan Alison dan Esther.

“Ingat ya Esther, kamu gak boleh sampe ngaku kalo kamu sodaraan sama Murphy. Jangan kamu deketin Murphy atau bareng-bareng Murphy di sekolah. Mama gak mau kamu juga jadi kena hal buruk dari dia,” ujar Alison.

“Ma, Murphy itu adik aku. Lagian dia butuh teman, Ma. Dia akan membutuhkan aku di sekolah,” elak Esther.

“Pokoknya Mama gak mau tahu! Kamu harus jauhin dia di sekolah. Kalo engga, uang les private bulan ini gak Mama kasih!”

Esther menghembuskan napasnya berat. “Terserah Mama. Esther gak peduli!” ucapnya seraya melengos pergi.

Hati Murphy remuk mendengar hal itu. Akankan dia sendirian lagi kali ini? Haruskah? Andai saja ada Ibu. Aku pasti gak bakalan kayak gini. Ibu, Murphy kangen Ibu, hiks.

Murphy segera berlari ke luar gerbang rumahnya. Tidak mempedulikan panggilan Esther di belakangnya. Berlari sejadi-jadinya menuju sekolahnya sendirian. Tak peduli tatapan orang-orang yang dilaluinya. Baginya sekarang, dunia seakan-akan menolak kelahiran Murphy. Murphy yang malang.

Leave a Reply