Mengenali Hyperinflasi, dan Sejarah Negara Yang Pernah Mengalaminya

162 0

For a good reason it’s a Friday, make it valuable to you and your circle —- RMND 

Pada kesempatan sebelumnya kita sudah mengetahui sedikit banyak mengenai jenis jenis inflasi dan dampaknya pada perekonomian suatu negara, dan kita juga sudah mengetahui pentingnya pengendalian inflasi oleh otoritas keuangan suatu negara.

Pada hari jumat ini kita berkesempatanu untuk dapat mengetahui lebih mendetail tentang hyperinflasi dan kasus yang pernah terjadi : 

Seperti kita ketahui bersama bahwa inflasi adalah hal yang lumrah terjadi kepada seluruh negara di Dunia. Namun apa yang terjadi jika inflasi terjadi hingga 50% per bulan ? 

Jika inflasi terjadi hingga 50% atau lebih per bulan kondisi seperti ini kita kenal sebagai Hiperinflasi. Hyperinflasi dapat disebabkan oleh  dua faktor utama yaitu cepatnya meningkat jumlah uang beredar dan naiknya permintaan konsumen secara significant. 

Pada umumnya hyperinflasi terjadi pada saat pemerintah mencetak uang sebanyak banyaknya untuk membiayai pembangunan dan perang, seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa naiknya jumlah beredar akan meningkatkan inflasi. 

Penyebab lainnya, karena permintaan yang naik  secara significant dan kedaaan supplay barang / jasa tidak dapat memenuhi permintaan yang sedang terjadi di masyarakat dan seperti yang kita ketahui sebelumbya bahwa naiknya demand secara significant akan menekan harga barang untuk naik.

Beberapa faktor yang mendorong naiknya permintaan barang / jasa di masyarakat adalah seperti baiknya pertumbuhan ekonomi, naiknya pendapatan eksport secara significant, dan naiknya pengeluaran pemerintah secara siginificant. 

Pada umumnya dua faktor pendorong hyperinflasi biasanya terjadi secara bersamaan, namun jika pemerintah tidak melakukan pengetatan pengendalian inflasi dengan baik dan terus mencetak uang maka tidak lama lagi akan terjadi hyperinflasi. 

Karena masyarakat akan mulai menyadari bahwa harga barang akan naik secara significant di kemudian hari mereka akan mulai melakukan pembelian secara massal. Hal ini akan mendorong kenaikan harga barang lebih tinggi lagi dan membuat mayoritas masyarakat tidak dapat menjangkaunya. 

Jika hyperinflasi terjadi terus menerus maka akan terjadi kehancuran system ekonomi negara karena hilangnya nilai simpanan sebagian besar masyarakat. Bank juga akan mengalami kebangkrutan karena habisnya uang cash yang disimpan nasabah ditambah lagi berkurangnya nasabah yang menabung. 

Hyperinflasi juga akan berdampak pada berkurangnya investasi asing, hal ini didorong karena beban biaya domestik yang ditanggung investor akan meningkat secara tajam. Meningkatnya angka pengangguran berdampak pada berkurangnya salah satu sumber pajak sebagai basis penghasilan pemerintah dan kondisi akan diperparah jika pemerintah mengatasinya dengan cara mencetak uang baru. 

Beberapa contoh hyperinflasi yang pernah terjadi di dunia, seperti pada negara : 

German 

Pada perang dunia pertama, German banyak mencetak uang untuk membiayai perang pada tahun 1920-1923. Kebijakan pertama yang diambil Jerman adalah melakukan kebijakan fiskal untuk dapat mendongkrak nilai eksport dan pertumbuhan ekonomi. 

Pada masa berakhirnya perang, faktor produksi menurun drastis disisi lain Jerman memiliki banyak uang cash. Pada masa hyperinflasi menimpa Jerman harga barang naik dua kali lipat setiap 3.7 hari atau terjadi inflasi sebesar 20.9% per harinya. 

Indonesia 

Pada tahun 1963-1965 Indonesia pernah mengalami krisis hyperinflasi, hal ini disebabkan oleh pemerintah dipacu untuk mencetak uang sebanyak banyaknya untuk membiayai pembangunan dan perjuangan kemerdekaan. 

Venezuela

Krisis hyperinflasi yang menimpa Venezuela diawali dengan kebijakan pengendalian harga makanan dan kesehatan yang sangat rendah oleh Hugo Chavez sebagai presiden Venezuela. Dengan harga yang sangat rendah membuat perusahaan domestik mengalami kebangkrutan dan menutup usahanya. 

Pemerintahan Venezuela melakukan kebijakan import untuk memenuhi kebutuhan domestik dalam negerinya, akan tetapi pada saat terjadi harga minyak yang anjlok membuat keuangan Venezuela pun mengalami kesulitan. 

Pemerintah Venezuela mulai mencetak uang untuk mengatasi keringnya liquiditas, hal ini berakibat naiknya harga barang sebesar 65.000% pada tahun 2018. Masyarakat Venezuela mulai menggunakan Telur sebagai pengganti alat tukar. 

Zimbabwe 

Hyperinflasi di Zimbabwe disebabkan oleh pemerintah banyak mencetak uang untuk membiayai perang dengan Kongo, dan kondisi diperparah dengan kondisi kekeringan yang berakibat pada berkurangnya suplay pasok makanan di Zimbabwe. 

Rakyat Zimbabwe merasakan hyperinflasi hampir 100% perharinya, dan untuk mengatasi krisis ini pemerintah Zimbabwe memutuskan untuk menggunakan dollar Amerika sebagai alat tukar yang sah di negaranya. 

Bagaimana cara menghadapi hyperinflasi ? 

Banyak orang yang merasa bingung untuk menghadapi resiko hyperinflasi, beberapa Financial habits dapat membantu kita menghadapi hal tersebut. 

Pertama yang harus disiapkan adalah mendiversifikasi asset, baik berupa surat hutang atau saham serta beberapa asset fisik seperti  emas, tanah,  dan real estate. 

Selanjutnya pastikan passport anda aktif, karena hyperinflasi membuat biaya hidup di negara anda termasuk tidak masuk akal dan anda perlu keluar secepat mungkin untuk menyelamatkan diri dan keluarga anda. 

Terakhir, pastikan anda memiliki keterampilan yang dapat memastikan keberlangsungan hidup anda kedepan dengan melakukan barter. Karena kita ketahui bersama pada saat hyperinflasi uang tidak memiliki harga dan kemungkinan besar kita akan melakukan barter untuk memenuhi kebutuhan sehari hari (Contoh Skill Memanggang Roti).

Hyperinflasi tercatat sangat jarang terjadi, akan tetapi dengan mengetahui lebih dulu tentang hyperinflasi setidaknya kita dapat mengantisipasi dan menyiapkan diri sebelum terjadinya hyperinflasi.

Rio Aditya Ermindo

Rio Aditya Ermindo

Follow my instagram @rioadityae

Leave a Reply