Mengagumkan Inilah Studio Film Pertama di Dunia

28 0

Kalau kita bicara tentang studio film, tentunya tidak lepas dari berbagai nama studio film populer di Hollywood, sebut saja 20th Century Fox, Warner Bros, Universal Pictures, Paramount Pictures dan lainnya. Tapi, pernahkah kalian berpikir seperti apakah studio film pertama di dunia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, postingan ini akan menjawabnya.

<H2> SEJARAH BLACK MARIA STUDIO </h2>

Gambar di atas adalah penampakan dari studio film pertama di dunia. Studio tersebut bernama Black Maria Studio (Edison’s Black Maria). Studio ini berlokasi di West Orange, New Jersey, AS. Studio ini dimiliki oleh salah satu tokoh ternama di dunia, yaitu Thomas Alva Edison. Ya, kalian tidak salah baca. Orang yang sama dengan orang yang menemukan lampu.

Thomas Alva Edison

Studio tersebut dibangun di lahan bekas laboratorium milik Edison. Untuk proses pembuatannya sendiri, hanya memakan waktu selama kurang lebih 2 bulan, yakni dari bulan Desember 1892, sampai Februari 1893. Selain itu, proses pembuatan studio ini hanya memerlukan biaya sekitar 15.200 USD, atau sekitar 213 juta Rupiah.

Gambar Desain Awal Studio Black Maria

Itu tadi sekilas tentang studionya. Sekarang, yang jadi pertanyaannya adalah, bagaimana caranya studio tersebut mengambil rekaman filmnya? Dan seperti apa rupa Kamera pada akhir abad ke-18? Pada saat itu, para pekerja di industri perfilman menggunakan sebuah piranti berukuran besar yang bernama Kinetoskop. Nah, Kinetoskop inilah yang menjadi “nenek moyang” Kamera yang biasa kita lihat sekarang.

Seperti inilah bentuk Kinetoskop

Bisa kalian bayangkan betapa repotnya para kru film di zaman dulu. Ibarat bekerja membawa lemari baju kemana-mana, hanya untuk membuat sebuah film.

<H2> PENAYANGAN FILM </h2>

Pada awal bulan Mei 1893, Thomas Alva Edison melakukan pemutaran film pertama di dunia di Institut Seni dan Pengetahuan Brooklyn, New York. Dengan menggunakan Kinetoskop, Thomas Alva Edison berhasil merekam gambar bergerak yang memperlihatkan 3 orang pria yang tengah berpura-pura sebagai pandai besi. Film tersebut memiliki hak cipta yang sepenuhnya dimiliki oleh William Kennedy Dickson, selaku juru kamera dari film tersebut.

Setahun kemudian pada tahun 1984, Thomas Alva Edison kembali melakukan rekamannya. Kali ini, Beliau merekam seorang pria yang sedang bersin. Pria tersebut diketahui bernama Fred Ott. Meskipun hanya menampilkan orang bersin saja, namun film tersebut sangat fenomenal pada saat itu.

Setelah itu, Edison’s Black Maria Studio mulai merekam sebuah acara yang bernama Buffalo Bill’s Wild West Show. Berbagai macam adegan direkam oleh studio film tersebut, mulai dari pertunjukan sulap, pentas drama, tarian, pertandingan tinju, sampai sabung Ayam. Ya, kalian tidak salah baca. Edison’s Black Maria Studio juga merekam sebuah pertandingan sabung Ayam saat acara “Buffalo Bill’s Wild West Show” digelar.

Salah satu cuplikan adegan dalam acara Buffalo Bill’s Wild West Show

Setelah merekam acara tersebut, Edison’s Black Maria Studio kembali membuat film-film yang terkesan random, seperti suasana jalanan kota, aktivitas para Polisi dan Damkar, sampai merekam Kereta Api yang lewat.

Pada tanggal 14 April 1894, Thomas Alva Edison mulai membuka sebuah gedung pameran khusus untuk menayangkan film buatannya. Gedung tersebut berlokasi di 1155 Broadway (Manhattan), New York. Untuk tiket masuknya, para pengunjung cukup merogoh kocek sebesar 25 sen saja untuk bisa menyaksikan film buatan Thomas Alva Edison. Di awal peresmiannya, pameran tersebut dihadiri oleh sekitar 500 orang pengunjung. Kala itu, ada 5 film yang ditampilkan dalam pameran tersebut, antara lain Barber Shop, Blacksmiths, Cock Fight, Wrestling dan Trapeze. Lama kelamaan, pameran tersebut kian ramai dikunjungi oleh para pengunjung. Dan pada akhirnya, Thomas Alva Edison memutuskan untuk membuka gedung cabang yang bertempat di San Francisco, Atlantic City dan Chicago.

Sayangnya, dengan kesuksesan studio tersebut, rasanya tidak menjadi halangan bagi Thomas Alva Edison untuk menutup studionya itu. Pada Januari 1901, Edison’s Black Maria Studio dinyatakan berhenti beroperasi. Dua tahun kemudian, gedung bekas studio tersebut pun dirobohkan. Keputusan tersebut sangat disayangkan oleh beberapa pihak, salah satunya adalah Badan Layanan Taman Nasional Amerika Serikat atau US National Park Service. Mereka ingin studio tersebut dibangun kembali. Studio tersebut sempat dibangun kembali pada tahun 1954, namun pada akhirnya, studio tersebut dialihfungsikan menjadi Taman Sejarah Nasional Thomas Edison atau Thomas Edison National Historical Park.

Thomas Edison National Historical Park

Sebuah studio replika dari Edison’s Black Maria Studio sempat dibangun pada tahun 1940 oleh studio film Metro-Goldwyn-Mayer. Kala itu, MGM (singkatan dari Metro-Goldwyn-Mayer) tengah membuat sebuah film biografi Thomas Alva Edison, berjudul Edison, The Man.

Poster film “Edison, The Man”

<H2> FAKTA MENGENAI EDISON'S BLACK MARIA STUDIO </h2>

Faktanya, bagian atap Edison’s Black Maria Studio dipasang sebuah kain terpal warna hitam yang dimodifikasi agar cahaya matahari yang masuk ke dalam gedung studio bisa diatur sedemikian rupa. Tujuannya agar proses pengambilan gambarnya bisa mendapatkan pencahayaan yang baik.

Bagian yang dilingkari merah adalah Terpal yang dipasang di atap gedung studio film

Ada juga fakta lainnya. Ternyata, para pegawai studio tersebut merasa tidak nyaman bekerja di sana. Alasannya sederhana, studio tersebut sangatlah sempit dan pengap. Ditambah lagi dengan gedung tersebut yang berwarna hitam, membuat hawa di dalam gedung terasa panas. Mengapa bisa demikian? Karena menurut penelitian Sains, warna hitam dapat menyerap semua cahaya Matahari dan mengubahnya menjadi bentuk energi lain, contohnya seperti panas/kalor. Semakin pekat warnanya, semakin besar kemampuan suatu benda berwarna hitam dalam memancarkan panas.

Fakta yang terakhir adalah saat sebelum film pertama di dunia (film tentang 3 orang pandai besi yang sudah disebutkan sebelumnya) dibuat. Rupanya, ada banyak sekali warga dari berbagai negara yang mencalonkan diri sebagai pemeran dalam film tersebut. Singkat waktu, terpilihlah beberapa orang diantaranya. Mereka yang terpilih adalah orang-orang yang paling beruntung dalam sejarah dunia.

Leave a Reply