Melihat Sekilas Cryptocurrency

275 0

Cryptocurrency saat ini sedang banyak diperbincangkan oleh banyak kalangan mulai dari mahasiswa hingga media pemberitaan, hal ini didorong dari kinerja cryptocurrency yang begitu fantastis “sebut saja begitu” untuk sebuah media investasi paper asset  atau digital asset.

Jika disejajarkan dengan reksadana hingga saham, kinerja cryptocurrency sangat fluktuatif dengan kanaikan dan penurunan harga yang fantastis. Jika disandingkan dengan produk reksadana dengan kinerja terbaik tahun 2020 Manulife Greater Indonesia Fund yang mentorehkan kinerja kenaikan sebesar 23,52% selama setahun. (Source : Bareksa.com)

Maka kenaikan harga sebesar itu hanya membutuhkan waktu kurang dari sehari oleh salah satu Cryptocurrency (Doge Coin) 25,68% (Source : Indodax.com 19/April/2021). Kinerja cryptocurrency yang begitu fantastis ini tidak lepas dari peran publik figure dan tokoh keuangan global yang menyorot kinerja Cryptocurrency.

Dalam kesempatan ini saya tidak akan menjelaskan secara terperinci mekanisme menambang hingga teknologi cryptografi dari cryptocurrency karena memang saya tidak memiliki basic pengetahuan yang mumpuni. Namun jika melihat mekanisme untuk mendapatkan cryptocurrency melalui platform jual beli aset crypto, saya melihat ada kesamaan dengan pasar saham.

Kesamaan dapat langsung dilihat dari mekanisme pasar yang berlangsung, di pasar jual beli aset crypto ada bid / offer harga hingga jumlah crypto. Sedangkan fluktuasi harga aset crypto berdasarkan permintaan dan penawaran di rentang harga tertentu melalui mekanisme pasar. Hanya ada satu perbedaan dalam penyerahan aset digital, aset digital dapat langsung diterima oleh nasabah detik itu juga.

Untuk melanjutkan pembahasan mengenai Cryptocurrency, pertama kita harus mengetahui jenis aset dari cryptocurrency. Hasil dari searching saya menemukan indodax, sebagai exchange platform untuk aset cryptocurrency dalam pengawasan BAPPEBTI. Maka secara regulasi Cryptocurrency diakui sebagai komoditas dan bukan mata uang.

Sebagai mana komoditas maka harga ditetapkan dari ketersediaan suplay dan demand dari komoditas tersebut. Jika suatu saat permintaan atas suatu komoditas sangat tinggi maka harga komoditas tersebut akan terkerek naik.

Kongkretnya salah satu komoditas yang dapat kita perhatikan pergerakan harga adalah coal atau batubara di Australia sempat menyentuh harga tertinggi 120 USD pada medio tahun 2018 dan menyentuh harga terendah dibawah 60 USD pada Jan 2016. (Source : SahamOK.net).

Maka kita dapat pastikan jika kedepannya adopsi cryptocurrency mengalami peningkatan significant maka harganya pun akan ikut terkerek naik, begitu pula jika terjadi sebaliknya cryptocurrency bisa jadi hanya menjadi trend jika tanpa ada adopsi berkelanjutan cryptocurrency di bidang pembayaran hingga perdagangan maka harga crypttocurrency akan jatuh ( seperti halnya batubara ).

Kabar baiknya, dikabarkan Tesla memberikan peluang kepada pembeli produk Tesla untuk membayar dengan Cryptocurrency. Namun hal ini belum gayung bersambut dengan produsen otomotif lain, karena dinilai crytocurrency masih sangat fluktuatif dan beresiko.

Artikel ini dibuat hanya sebagai media  penyampaian informasi secara terstruktur agar audience dapat terbantu untuk melakukan analisa, segala tindakan yang diambil setelah membaca artikel ini adalah tanggung jawab masing masing dari audience dan penulis tidak pernah memberikan rekomendasi buy / sell.

Rio Aditya Ermindo

Rio Aditya Ermindo

Follow my instagram @rioadityae

Leave a Reply