Hutang & Perekonomian Negara

350 2

Pembangunan Singapura dengan hutang itu sebagian besar dari rakyatnya sendiri. — Faisal Basri (2018)

Hutang adalah salah satu jalan untuk membiayai gap kebutuhan anggaran yang jamak dilakukan oleh banyak negara di Dunia. 

Gunakan hutang dengan bijak atau hutang diperbolehkan untuk hal yang produktif dan worth secara ekonomi, begitulah kata kata bijak yang sering saya dapatkan selama berkuliah di fakultas ekonomi. 

Hutang seperti yang kita ketahui memiliki cost/bunga atau biaya lainnya yang mungkin muncul akibat dari penggunaan dana hasil hutang. Hal ini sangat jamak sekali terjadi baik di scope pemerintahan hingga personal atau pribadi. 

Banyak sekali pakar ekonomi yang membenarkan penggunaan hutang, bahkan salah satu contoh teori ekonomi modern “pump priming keyness” menyebutkan jika terjadi kontraksi ekonomi, pemerintah justru didorong untuk berbelanja lebih besar demi mendorong partisipasi swasta dalam perekonomian. 

Tercatat utang luar negeri pemerintah pada tahun 2021 senilai Rp. 402,402,72 miliar dollar AS dan menjadi salah satu negara dengan kategori 10 negara dengan hutang luar negeri terbesar di Dunia.


Namun ada satu hal yang mungkin luput dari pertimbangan para ekonom, yaitu pergerakan arus modal. Hutang yang diambil dari luar negeri akan berdampak pada pergerakan arus modal. 

Utang Luar Negeri 

Hutang yang berasal dari luar negeri akan berdampak pada kebutuhan atas valuta asing dalam negeri untuk dapat membayar hutang tersebut pada saat jatuh tempo.

Jika kebutuhan valuta asing lebih tinggi dibandingkan dengan supply yang ada, maka hal ini juga akan berdampak pada melemahnya nilai tukar mata uang lokal terhadap valuta asing. 

Utang luar negeri yang tidak terencana dengan baik juga akan berdampak pada semakin membesarnya porsi anggaran belanja negara untuk membayar hutang dan bunga. 

Hal ini akan berdampak pada berkurangnya anggaran negara untuk kebutuhan lain yang lebih prioritas seperti pendidikan hingga kesehatan.

Literasi Keuangan Digital 

Tidak dapat dipungkiri ada banyak hal yang masih harus dibenahi di Indonesia, namun seiring tuntutan zaman. Masyarakat sudah mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi. 

Sekarang, masyarakat bahkan dapat mengakses produk keuangan seperti reksadana hingga saham dengan modal yang sangat minim. Semua ini berkat berkembangnya teknologi dan informasi di tengah tengah masyarakat.

Didorong oleh semangat gotong royong dan literasi keuangan digital yang baik pemerintah dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam pembiayaan keuangan negara dengan mengeluarkan obligasi pemerintah dengan nominal yang terjangkau dan bunga yang rendah. 

Choice 

Hal seperti ini jamak dilakukan di luar negeri, salah satunya ada di Amerika Serikat dengan mengeluarkan surat hutang dengan bunga 0% atau Zero-Coupon U.S Treasury Bond. Kebijakan seperti ini akan mendorong partisipasi publik dan rasa memiliki terhadap negara. 

Dengan meningkatkan rasa memiliki, publik akan terdorong untuk aktif memantau anggaran negara agar terhindar dari praktik korupsi. Jika kita asumsikan per orang membeli Rp 10.000 obligasi zero-coupon pemerintah atas dasar partisipasi publik. 

Maka akan terkumpul Rp. 2,706 Triliun, jumlah yang tidak bisa dikatakan banyak jika dibandingkan dengan jumlah utang pemerintah sekarang. Namun jika dibandingkan dengan nilai proyek MRT senilai Rp4,6 Triliun nilai ini sudah lebih dari setengahnya. 

Urgensi 

Urgensi dari meningkatkan partisipasi publik pada keuangan negara lebih ke arah meningkatkan kesadaran masyarakat akan rasa memiliki. 

Diharapkan dengan rasa memiliki yang tinggi dari masyarakat hal ini akan saling menjaga keuangan negara dan melakukan pemantauan kinerja pemerintah dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. 

Dengan rasa memiliki rakyat akan terdorong untuk memantau dan menjaga keuangan negara secara aktif. Jangan sampai informasi ini berhenti di kamu, dan kamu dapat dengan mudah membagikan informasi ini dengan orang lain dengan klik tombol dibawah ini !

Rio Aditya Ermindo

Rio Aditya Ermindo

Follow my instagram @rioadityae

2 comments

  1. Hutang yang semakin menggunung bunganya juga bisa menyengsarakan suatu negara, semoga Indonesia tidak terjadi seperti itu meski sudah di ingati oleh para ekonom Indonesia bahwa kondisi sudah mencapai lampu kuning…

    1. Pernah saya mendengar ceramah, hampir seluruh ibadah dapat dilakukan siapapun walaupun dengan susah payah misalnya haji dan umrah.

      Namun ada satu ibadah yang terkhususkan hanya bisa dijalankan oleh orang terpilih yaitu membuat keputusan dan kebijakan.

      Maka sebagai masyarakat umum tugas kita hanya mengawasi dan bila ada kesanggupan memberikan masukan. Terlepas dari itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembuat kebijakan.

Leave a Reply