Film Bisu Paling Kontroversial dari Amerika

9 0

Seiring berjalannya waktu, teknologi pun terus berkembang, termasuk di dunia perfilman. Jika sekarang kita sering melihat berbagai macam film dengan efek visual dan tata rias yang mampu memanjakan mata, lain halnya dengan film-film pada zaman dahulu. Kita hanya bisa menikmati film dari mimik para pemeran dan juga musik pengiringnya saja, tanpa ada sepatah kata yang terucap dari mulut para pemeran film. Beberapa film di kala itu juga menyediakan sebuah “kartu dialog”, dimana dengan kartu tersebut, kita bisa lebih memahami apa maksud dari mimik sang pemeran film. Film tersebut disebut sebagai Film Bisu.

Berbicara tentang era film bisu, ada sebuah film asal Negeri Paman Sam yang dianggap sebagai “Film Bisu Paling Kontroversial” menurut catatan sejarah perfilman Amerika. Seperti apakah film tersebut? Mari kita bahas bersama.

<H2> THE BIRTH OF NATION </h2>

Poster Film (Sumber : Wikipedia)

The Birth of a Nation, sebuah film karya sutradara David Wark Griffith yang dirilis pada tanggal 8 Februari 1915. Film ini diproduseri oleh Harry Aitken dan ditulis naskahnya oleh Frank E. Woods. Faktanya, film ini merupakan film adaptasi novel dan opera berjudul serupa karya Thomas Dixon Jr.

Saat penulis membaca sumbernya, inti dari cerita dalam film ini sebetulnya adalah kisah cinta antara sepasang kekasih yang terhalang restu orang tua bak kisahnya Romeo and Juliet. Hanya saja, ceritanya berlatar waktu pada masa Perang Saudara Amerika Serikat & Masa Rekonstruksi. Satu hal yang penulis sayangkan dari ceritanya adalah kisah cinta dalam film ini dibuat kompleks (karena banyaknya unsur politik) dan menyinggung isu rasisme antara orang kulit putih dan orang kulit hitam di Amerika. Satu hal lainnya yang membuat film menjadi kontroversial adalah film ini menjadi inspirasi dari terbentuknya organisasi Ku Klux Klan (KKK) in real life. Buat yang belum tahu, Ku Klux Klan (KKK) adalah kelompok supremasi kulit putih AS yang berkeyakinan bahwa ras kulit putih adalah ras yang terbaik. Mereka mendirikan organisasi tersebut dengan maksud untuk memberantas kaum kulit hitam dan minoritas di AS seperti Yahudi, keturunan Asia, dan Katolik Roma. Di tahun 1915, era baru dari KKK atau yang disebut sebagai Klan Kedua resmi didirikan pasca perilisan film ini.

Lambang Ku Klux Klan (Sumber : Google)

Dalam film, diceritakan bahwa organisasi “KKK” adalah sang protagonis utama. Berkat peran mereka, kisah cinta antara sepasang kekasih tersebut berakhir dengan bahagia. Sayangnya, penggambaran KKK di film dengan kenyataannya sangatlah berbanding terbalik. Hal lain yang membuat film ini sangat kontroversial adalah pemilihan aktornya. Dalam film, ada sebuah adegan dimana para anggota KKK mengeksekusi mati seorang pria berkulit hitam dengan cara digantung. Fakta mengejutkannya adalah sang aktor yang berperan sebagai pria berkulit hitam itu sebenarnya adalah pria berkulit putih yang didandani sedemikian rupa agar menyerupai pria berkulit hitam.

Walter Long, aktor kulit putih yang didandani seperti orang kulit hitam (Sumber : Wikipedia)

Alhasil, seluruh warga kulit hitam di Amerika Serikat melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran menentang pemutaran film tersebut. Namun, disisi lain, film ini mendulang kesuksesan besar di pasar film Hollywood. Bahkan, pemasukan dari film ini jumlahnya 10 kali lipat dibandingkan pengeluarannya.

<H2> PROSES PRODUKSI </h2>

Di tahun 1911, pada awalnya film ini rencananya akan menggunakan kamera Kinemacolor, sebuah kamera dengan teknologi tercanggih pada saat itu, dimana dengan kamera tersebut, kualitas gambar yang didapat akan jauh lebih bagus. Selain itu, kamera tersebut dapat menghasilkan gambar ataupun video yang berwarna, ketimbang kamera konvensional pada saat itu yang masih menghasilkan gambar ataupun video hitam putih.

Kamera Kinemacolor (Sumber : Pinterest)
Hasil gambar yang dihasilkan dari Kamera Kinemacolor (Sumber : Wikipedia)

Sayangnya, karena harganya yang terlalu mahal dan modal produksi yang sedikit, jadinya proses pengambilan gambar pun terpaksa harus menggunakan kamera konvensional pada umumnya.

Proses syuting pun dilakukan di sebuah perkebunan bersejarah di kota Natchez, Mississippi, yaitu Homewood Plantation. Saat proses pembuatan film sudah berjalan separuhnya, tiba-tiba saja dibatalkan. Modal produksi yang kecil diduga menjadi penyebab utamanya.

Saat itu di tahun 1911, film ini sempat dipegang oleh sutradara William F. Haddock dan produser George Brennan. Barulah di penghujung tahun 1913, produser Harry Aitken mulai tertarik untuk membuat film ini. Lalu, Harry Aitken menunjuk David Wark Griffith sebagai sutradaranya. Saat mengetahui film seperti apa yang akan Ia arahkan, Griffith mengaku kalau Ia sangat tertarik. Sedikit fun fact, David Wark Griffith dan sang pembuat novel, Thomas Dixon Jr rupanya merupakan keturunan pasukan Konfederasi pada masa Perang Saudara Amerika.

David Wark Griffith (kiri), Harry Aitken (tengah) dan Thomas Dixon Jr (kanan) (Sumber : Wikipedia)

Setelah produser dan sutradara terpilih, proses selanjutnya adalah casting pemeran. Singkat cerita, terpilihlah Lillian Gish dan Henry Brazeale Walthall sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai, sekaligus tokoh utama dalam film.

Lillian Gish (kiri) dan Henry Brazeale Walthall (kanan) (Sumber : Wikipedia)

Pemilihan bahan untuk naskah cerita film ini diambil berdasarkan opera karya Dixon. Tapi, ada beberapa bagian cerita yang mengambil inspirasi dari salah satu novel karya Thomas Dixon Jr lainnya, yaitu The Leopard’s Spots. Ada sedikit cerita saat proses pembuatan naskah berlangsung. Dixon menginginkan bagian “paling kontroversial dari novelnya” untuk dimasukkan ke dalam naskah. Griffith selaku sutradara sebetulnya merasa keberatan dengan usulan Dixon selaku penulis novel. Namun pada akhirnya, “bagian” tersebut pun pada akhirnya dimasukkan ke dalam film. Bagian manakah yang penulis maksud? Jawabannya ada di paragraf kelima.

Semua rekaman yang sudah pernah direkam pada tahun 1911 tidak jadi digunakan. Karena proses syuting kedua dari film ini memiliki budget yang besar, maka para kru film memutuskan untuk menggunakan kamera Kinemacolor dalam proses pengambilan gambarnya. Alhasil, hasil akhir dari film ini menjadi lebih berwarna ketimbang hasil rekaman sebelumnya yang masih hitam putih.

Untuk proses syutingnya sendiri hanya memakan waktu selama 3 bulan saja, mulai dari bulan Juli sampai Oktober 1914. Sementara lokasi pengambilan gambarnya dilakukan di 4 tempat sekitaran California, Amerika Serikat. Karena film ini mengambil latar waktu pada masa Perang Saudara Amerika, tentunya ada beberapa adegan peperangan yang dimasukkan ke dalam film ini. Untuk menciptakan rekonstruksi adegan perang yang realistis dan sejalan dengan alur sejarah, pihak kru film sampai berkonsultasi dengan pihak Akademi Militer Amerika Serikat atau yang biasa disebut sebagai West Point. Inspirasi Griffith dalam menciptakan adegan perang, Ia dapatkan dari beberapa novel ciptaan Robert Underwood Johnson dan foto-foto yang diambil oleh seorang fotografer bernama Matthew Brady

Robert Underwood Johnson (kiri), seorang penulis novel asal Amerika Serikat dan Matthew Brady (kanan), seorang fotografer perang asal Amerika Serikat (Sumber : Wikipedia)

Pada awalnya, dengan kurs mata uang saat itu, film ini hanya memiliki budget sebesar $40.000, namun hingga akhir proses syuting, budget yang dikeluarkan pun mencapai $100.000. Setelah proses syuting rampung, film ini awalnya memiliki durasi selama 2.160 menit (36 jam). Dengan proses penyuntingan, akhirnya film ini hanya memiliki durasi 180 menit (3 jam) saja.

Seperti yang penulis sebutkan sebelumnya, dalam film bisu hanya ada gerakan si pemeran dan musik pengiringnya saja. Soal musik pengiring, Joseph Carl Breil yang bertanggung jawab penuh atas pembuatan musik pengiring dalam film ini. Dalam proses pembuatannya, Breil menggunakan 3 komposisi musik, musik klasik, musik terbaru dengan melodi yang terkenal di telinga masyarakat dan musik ciptaannya sendiri. Beberapa contoh musik klasik yang dijadikan inspirasi oleh Breil diantaranya Der Freischütz (karya Carl Maria von Weber), Leichte Kavallerie (karya Franz von Suppé), Symphony No.6 (karya Ludwig Van Beethoven) dan Ride of the Valkyries (karya Richard Wagner). Sementara contoh musik dengan melodi terkenal yang dipakai oleh Breil diantaranya “Maryland, My Maryland”, “Dixie”, “Old Folks at Home”, “The Star-Spangled Banner”, “America the Beautiful”, “The Battle Hymn of the Republic”, “Auld Lang Syne”, dan “Where Did You Get That Hat?”.

<H2> PERILISAN DAN RESPON PENONTON </h2>

Sebelum dirilis, film ini dipromosikan terlebih dahulu lewat pentas opera “The Clansman” yang digelar pada 1-2 Januari 1915 di Loring Opera House, Riverside, California. Setelah mendapatkan antusias penonton, barulah pada tanggal 8 Februari 1915, film ini dirilis untuk pertama kalinya di Hazard’s Pavilion, Los Angeles. Saat itu, film ini telah ditonton oleh 3.000 penonton.

Hazard’s Pavilion, Los Angeles (Sumber : Wikipedia)

Setelah itu, film ini pun ditayangkan di bioskop-bioskop seluruh Amerika. Dan bahkan, film ini juga pernah ditayangkan di Gedung Putih. Namun, penayangan di Gedung Putih merupakan sebuah blunder terbesar. Sejak saat itulah film ini menuai kecaman dari berbagai pihak, terutama warga berkulit hitam di Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat saat itu, Woodrow Wilson juga sangat menyayangkan penayangan film tersebut. Selain Presiden Wilson, beberapa pejabat AS juga menyampaikan kekecewaannya terhadap penayangan film tersebut. Puncaknya, aksi unjuk rasa besar-besaran pun tak terbendung lagi.

Tetapi, bukannya film ini dihentikan, melainkan dilanjutkan penayangannya. Bahkan, film ini pun laku keras di beberapa bioskop AS. Selain itu, para kritikus film dan awak media malah memberikan respon positif dan memuji film ini. Film ini berhasil masuk box office beberapa bulan setelah perilisannya. Dan dalam waktu 2 tahun, film ini sudah mengantongi pemasukan sebesar 4,8 juta US Dollar (kurs mata uang saat itu). Film ini juga menjadi salah satu “Film Terlaris di Dunia” kala itu, sebelum akhirnya titel tersebut direbut oleh film Gone with the Wind pada tahun 1939. Total pemasukan dari film tersebut mencapai angka 100 juta US Dollar.

Pada tahun 1916, David Wark Griffith membuat sebuah sekuel dari film ini dan diberi judul The Fall of a Nation. Film tersebut merupakan “Film Sekuel Pertama di Dunia”. Sayangnya, eksistensi dari film tersebut sudah tidak ada. Selain sekuel, ada beberapa film yang terinspirasi dari film tersebut, diantaranya ada Intolerance (1916), The Birth of a Race (1918), Within Our Gates (1920) dan yang terbaru adalah Django Unchained (2012).

Film Intolerance adalah film lain karya David Wark Griffith yang dirilis pada tahun yang sama dengan film The Fall of a Nation. Film ini dibuat berdasarkan kejadian protes warga terhadap film The Birth of a Nation.

Intolerance (1916) (Sumber : Google)

Lalu ada film The Birth of a Race, sebuah film karya sutradara John Winthrop Noble dan produser Emmett Jay Scott. Mereka berdua memiliki ambisi untuk menjadikan film The Birth of a Race sebagai pesaing dari film The Birth of a Nation, sekaligus memutar balikkan fakta yang terdapat dalam film tersebut. Sayangnya, film tersebut masih kalah jauh dibandingkan dengan film The Birth of a Nation. Faktor produksi yang lambat dan promosi film yang kurang menarik menjadi penyebab film ini kurang laku di pasaran.

The Birth of a Race (1918) (Sumber : Google)

Kalau film The Birth of a Nation mengambil perspektif orang kulit putih, lain halnya dengan Within Our Gates, dimana film tersebut mengambil perspektif orang kulit hitam. Film tersebut menceritakan betapa sulitnya perjuangan hidup para warga kulit hitam Amerika Serikat dalam menghadapi cobaan berupa rasisme.

Within Our Gates (1920) (Sumber : Google)

Serupa dengan Within Our Gates, film Django Unchained juga mengambil perspektif orang kulit hitam. Inti ceritanya adalah menceritakan perjuangan Django Freeman, seorang mantan budak yang berusaha untuk bisa kembali bersama dengan istrinya. Mereka dipisahkan akibat perbudakan yang dilakukan oleh orang kulit putih terhadap orang kulit hitam. Film Django Unchained juga memutar balikkan fakta dari film The Birth of a Nation. Jika dalam The Birth of a Nation orang kulit putih digambarkan sebagai sosok yang tidak segan-segan membunuh dan menentang segala bentuk hubungan (baik percintaan sampai persahabatan) antara orang kulit hitam dan putih, lain halnya dengan film Django Unchained, dimana dalam film tersebut, Django sebagai orang kulit hitam mendapatkan dukungan dan bantuan dari seorang berkulit putih bernama Dr. King Schultz.

Django Unchained (2012) (Sumber : Google)

Leave a Reply