Bijak Menyikapi Kenaikan Harga Barang Pokok dan Inflasi

363 0
Indonesia memiliki 2 masalah utama dalam ketersediaan pangan yaitu, Variasi Musiman dan Variasi Antar Pulau – Prof.Dr. M. Firdaus (31/08/2017) on IPB TV

Kenaikan harga bahan makanan pokok secara psikologis sudah sangat lumrah terjadi di Indonesia, apalagi di waktu menjelang hari besar keagamaan hingga momentum bulan suci Ramadhan.

Kenaikan harga kebutuhan pokok pada dasarnya dapat terjadi akibat dari kurangnya ketersediaan bahan pangan di pasaran di rentang waktu tertentu, hal ini dapat disebabkan oleh 2 faktor utama yaitu perbedaan variasi musim atau musim panen komoditas produk pangan hingga perbedaan variasi antar pulau.

Untuk menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok di Indonesia, distribusi yang baik adalah point paling penting yang harus dibenahi. Karena dengan memperbaiki rantai distribusi, hal ini memungkinkan kita untuk memobilisasi stock pangan dari daerah yang surplus cadangan pangan ke tempat yang kekurangan bahan pangan.

Kebutuhan pangan dan stabilisasi harga pangan masih menjadi hal yang penting di Indonesia, karena masih banyak masyarakat di Indonesia yang berada di ambang kemiskinan. Dengan kenaikan harga pangan yang cukup significant, hal ini dapat berdampak langsung pada daya beli masyarakat secara umum.

Apalagi kontribusi kenaikan harga pangan masih menjadi faktor yang cukup besar mempengaruhi kenaikan inflasi di Indonesia.

Dosen IPB University Prof.Dr. M. Firdaus, mengatakan ada setidaknya empat upaya mengatasi kenaikan harga pangan yang dapat dilakukan pemerintah, swasta dan masyarakat.

“Dengan menaikkan produktifitas pertanian dalam negeri, dapat mengurangi ketergantungan kita terhadap barang pangan impor” jelasnya di wawancara IPB TV – (31/08/2017)

Hal pertama yang dapat diusahakan untuk mengendalikan fluktuasi harga makanan pokok adalah dengan menaikkan produktifitas pertanian di tanah air, maka secara tidak langsung kita akan mengurangi ketergantungan bahan pangan import dari luar negeri.

Dengan berkurangnya ketergantungan pangan dalam negeri dari barang import, maka Indonesia dapat terhidar dari kenaikan harga makanan pokok akibat faktor sampingan kebutuhan pangan seperti lonjakan nilai kurs hingga potensi keterlambatan pengiriman akibat masalah sospol hingga cuaca ekstrem.

Selanjutnya, yang dapat diperhatikan oleh pemerintah adalah peningkatan teknologi distribusi dan penyimpanan bahan makanan pokok, dengan begitu kita dapat memobilisasi bahan pangan dari daerah yang kelebihan stock ke daerah yang sedang mengalami kekurangan stock pangan.

Disisi lain masyarakat dapat didorong untuk mengurangi ketergantungan bahan konsumsi dengan hanya satu produk pangan dan mulai mencari subtitusi pangan yang murah dan mudah di dapat, Semisal kebutuhan carbohiddrat dapat disubtitusikan dari beras atau nasi ke sumber carbhidrat lain seperti jagung dan ubi.

Hal lain yang dapat dikontribusikan masyarakat, demi menjaga kestabilang harga pangan yang nantinya akan berdampak pada kestabilan inflasi di tanah air adalah dengan membudidayakan gaya hidup urban living society. Walaupun tidak banyak berpengaruh pada penurunan kurva permintaan bahan pokok, setidaknya masyarakat dapat lebih aware terhadap nilai dari makanan yang ia makan dan membangun kesadarannya agar menggunakan bahan makanan secara optimal.

Semua hal besar tidak dapat dijalankan sendiri, begitu pula hal kecil pun dapat menjadi bagian dari hal besar. Sebuah batu bata dapat menjadi bagian dari sesuatu yang besar, seperti batu bata yang dipergunakan dalam bangunan bersejarah Spinx ataupun Borobudur tinggal kita pilih dimana kita ingin melangkah.

Wise man says “I know the price of the heaven gate, the gate price is one cent … but there’s one i dont know is which one it will be count”
Rio Aditya Ermindo

Rio Aditya Ermindo

Follow my instagram @rioadityae

Leave a Reply