Bersikap Dewasa di Dalam Kehidupan Digital 

119 0

Perubahan adalah hal yang hampir tidak dapat dihindarkan namun pandemi mengajarkan suatu yang penting di awal abad 21 yaitu perubahan dapat terjadi sewaktu waktu tanpa peringatan terlebih dahulu (pandemi).

Pandemi merubah hampir semua lini kehidupan, walaupun tidak se-ekstrim menggantikan manusia dengan robot. Namun pandemi merubah kita untuk menjadi insan yang lebih peka terhadap update terbaru dan perkembangan teknologi. 

Pandemi memaksa banyak pihak untuk berubah menjadi insan yang lebih aplikatif terhadap teknologi, bayangkan saja hampir kegiatan kita sehari hari dihabiskan dengan bantuan internet dan aplikasi pendukung lainnya. 

Group Ilustration @unsplash.com

Secara garis besar ada dua golongan tipe manusia dalam menghadapi perubahan yang menjadi serba digital, yaitu : 

Skeptis 

Pada golongan skeptis menganggap kehidupan digital adalah kehidupan yang tidak nyata dan hanya sebagai pelengkap saja. Memang tidak bijak jika kita mengutamakan kehidupan digital yang begitu baik tanpa mengindahkan kehidupan offline atau real life. 

Namun, pada golongan ini memiliki kekurangan yang mendasar yaitu terlalu mengutamakan kehidupan offline dan sangat tidak terbuka dengan apa yang sedang hadir di dunia maya. Golongan ini cenderung tidak terbuka atas perkembangan yang sedang berlangsung.

Over Confident 

Pada golongan “over confident” menganggap kehidupan online atau maya adalah yang yang harus diikuti dan kehidupan offline tidak penting. Patut disadari bahwa apa yang ada di dunia maya mengenai seseorang dan topik tertentu hampir dapat di crosscheck balik kebenarannya. 

Namun, pada golongan ini melupakan satu penyakit utama dalam real kehidupan digital yaitu hacker dan MIMA atau kita kenal sebagai Man in Middle Attack. MIMA adalah sebutan untuk para pengadu domba di dunia digital. 

Untuk mengatasi kejahatan MIMA dibutuhkan validasi social secara online atas dampak yang dilakukan oleh MIMA.

Setinggi apapun jabatan manusia, manusia akan tetap menjadi (bawahan) dari Allah dan serendah apapun jabatan manusia, manusia tetap akan menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan keluarganya masing masing — RMND 

Then, how to deal with it ? 

Sejujurnya saya bukan ahli IT dan background saya adalah dunia keuangan namun saya dapat berikan sedikit masukan. Kehidupan digital adalah platform berbagi keceriaan, sebagai media social untuk memiliki teman dari berbagai latar belakang. 

Jangan biarkan orang yang sekedar kepo dan mencari tahu tentang anda melakukan asumsi liar yang mungkin kalian munculkan sendiri. Disisi lain jika kalian dalam posisi yang melakukan penilaian, jangan lakukan asumsi liar tanpa konfirmasi terlebih dahulu. 

Di dunia yang serba modern, tidak ada pihak yang dapat memonopoli kebenaran menurut versinya sendiri. Kini setiap individu memiliki peran yang sama dalam masyarakat yaitu pelaku dan penilai kehidupan masing masing —- RMND

Studi kasus : 

Jika kalian sedang menonton Film Klasik Hongkong berjudul Happy Ghost yang diperankan Raymond Wong Pak sebagai pemeran utama “The Happy Ghost” dan secara spontan kalian post tweet :

“Bagian tubuh bagian mana yang akan bereaksi jika mendapatkan rangsangan – The Happy Ghost Jokes”

  • (Jawabannya : Pupil mata, pupil mata akan bereaksi jika mendapatkan rangsangan dari cahaya)

Alam bawah sadar anda berpikir bahwa semua orang tahu film tersebut namun di belahan bumi lain dengan latar belakang yang begitu beragam. Tweet  tersebut menimbulkan multitafsir dan celah orang lain membicarakan atau bahkan membuat isu diluar nalar mengenai anda. 

Maka yang anda harus lakukan adalah mempost sesuatu yang jelas fakta dan memiliki bukti otentik yang dapat dipertanggung jawabkan tanpa harus repot (masukan sumber informasi valid tersebut).

Jika anda menemukan sesuatu informasi mengenai seseorang lebih baik tabayyun dan melakukan konfirmasi ke pihak tersebut karena kemungkinan besar yang anda pikirkan berbeda 180 derajat. Karena pada akhirnya kita bertanggung jawab pada Allah apa yang kita lakukan bukan apa yang orang lain bicarakan tentang kita.

Pada akhirnya kehidupan online maupun offline memiliki tantangannya masing masing, namun satu hal yang lebih jahat dari penjahat adalah pihak yang menjadikan orang lain sebagai penjahat atas penilaian sepihak dan tidak bertanggung jawab.

Tidak ada teknologi yang buruk dan tidak ada pisau yang jahat semua kembali kepada siapa yang menggunakannya — RMND

Rio Aditya Ermindo

Rio Aditya Ermindo

Follow my instagram @rioadityae

Leave a Reply