Apa Itu Resesi Ekonomi? Bagaimana Dampak dan Peluangnya bagi Masyarakat?

149 0
unsplash.com @kyllik

Pandemi Covid-19 membawa dampak yang luar biasa buruknya — Suhariyanto (BPS 2020)

Pandemi yang disebabkan oleh virus covid19, hingga saat ini belum memiliki titik terang kapan akan berhenti (14/12/20). Pandemi tidak hanya mempengaruhi kondisi social dan kesehatan masyarakat.

Pandemi Covid19 juga mempengaruhi kondisi perekonomian masyarakat biasa hingga perekonomian negara. Tercatat ada beberapa negara yang telah secara resmi mendeklarasikan diri mengalami resesi ekonomi, sebut saja Singapura, Italy, Korsel, hingga Amerika.

Indonesia sendiri sudah mendeklarasikan diri menjadi negara yang ikut terdampak ekonominya dari covid19, resesi ekonomi tidak dapat terelakkan dari Indonesia tercatat resmi memasuki masa resesi eknomi pada 6 Nov 2020.

Pertanyaan pun muncul di benak masyarakat umum termasuk saya sendiri, seperti apa itu sebenarnya resesi ekonomi dan seperti apa tanda resesi sebelum terjadi ? hingga apa dampak dan peluang yang data dirasakan oleh masyarakat umum ?

Pada kesempatan ini, saya akan membahas sedikit tentang apa dan bagaimana tanda  resesi dapat terjadi hingga dampak dan peluang yang dapat dirasakan masyarakat umum.

Secara sederhana resesi adalah penurunan aktivitas ekonomi secara drastis, selama beberapa bulan berturut turut pada umumnya pakar ekonomi akan mengkasifikasikan teradinua resesi ekonomi apabila penutunan aktivitas ekonomi sudah terjadi selama 2 kwartal berturut turut.

Banyak pihak yang beranggapan bahwa resesi ekonomi hanya dapat dipastikan dengan melihat data kwartal pertumbuhan GDP suatu negara. Namun sebenarnya resesi dapat kita rasakan dan perkirakan sebelum data kwartala GDP keluar dengan melihat data penggerak ekonomi lain yang dapat di akses laporannya tiap bulan.  

Factor penggerak ekonomi lain yang dapat dipergunakan untuk memprediksi resesi akan terjadi adalah data tingkat pengangguran, tingkat pendapatan masyarakat, kondisi industry manufaktur, dan tingkat penjualan retail suatu negara.

Dengan menganalisa data tersebut kita dapat memperkirakan kemunginan terjadinya resesi jauh sebelum data pertumbuhan GDP keluar, karena data tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan GDP.

Sebelum terjadi resesi, ada beberapa gejala ekonomi yang memberikan indicator bahwa resesi akan terjadi, indicator tersebut merujuk pada definisi resesi menurut Julius Shiskin, sebagai berikut :

  • Penurunan GDP selama dua kuartal berturut turut
  • Penurunan GNP sebesar 1.5%
  • Penurunan pendapatan diluar sector pertanian sebesar 1.5%
  • Penurunan kinerja industri manufaktur selama lebih dari 6 bulan
  • Kenaikan angka pengangguran diatas 6%

Sederhananya, pada saat sector penggerak ekonomi utama seperti industri manufaktur mengalami perlambatan, hal ini menunjukkan bahwa factor ekonomi lain juga mengalami perlambatan hal ini ditandai dengan menurunnya permintaan barang ke sector industry manufaktur.

Disisi lain, industri manufaktur banyak menyerap tenaga kerja. Dengan melambatnya permintaan akan menurunkan permintaan angkatan kerja baru industry, bahkan akan terjadi pengurangan tenaga kerja dan resesi akan segera terjadi.

Image : Unsplash.com @tolga__

Dalam bahasa China, kata “krisis” terdiri dari dua karakter, satu mewakili bahaya dan yang lainnya, peluang  — Wikipedia

Jika resesi ekonomi terjadi maka akan berdampak pada kondisi masyarakat pada umumnya, karena mengungat sector ekonomi adalah satu satunya sector yang dapat menghubungkan sector satu sama lain dan menggerakkan kehidupan masyarakat.

Dampak yang jelas dapat dirasakan oleh masyarakat pada umumnya adalah seperti meningkatnya angka pengangguran, harga barang mengalami penurunan, dan bisnis tidak dapat berjalan dengan baik (bankrupt), dan banyak angkatan kerja yang hilang masa karirnya.

Namun disetiap hal jika kita dapat melihat dengan perspektif yang baik, maka akan ada selalu peluang di dalamnya. Pada masa resesi pemerintah akan melakukan kebijakan fiscal maupun moneter yang dapat mendorong bergeraknya ekonomi.

Hal ini tercermin dari kebijakan pemerintah Indonesia yang mengubah BI rate menjadi hampir 25% lebih rendah dari tahun 2019. Tercatat BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) 3.75% lebih rendah dari tahun 2019 sebesar 5.00%.

Kebijakan yang dikeluarkan BI, dengan menurunkan suku bunga acuan diharapkan biaya modal perbankan akan menjadi lebih terjangkau dan mendorong modal atau dana yang ada di perbankan untuk dapat digunakan ke sektor produktif.

Rio Aditya Ermindo

Rio Aditya Ermindo

Follow my instagram @rioadityae

Leave a Reply