2021 is New Beginning

155 0

Ekonomi Indonesia diperkirakan akan mulai kembali membaik pada 2021 dan perlahan menguat pada 2022 — Worldbank.org

Jika kita berbicara tentang ekonomi, maka kita berbicara tentang hajat hidup orang banyak. Sektor ekonomi berperan penting dalam kehiduan kita dan bagaikan “lem perekat” ekonomi dapat saling menghubungkan aktivitas kehidupan kita sehari hari, mulai dari sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan hingga sektor Jasa.

Hampir semua kegiatan kita sehari hari bersinggungan dengan sektor ekonomi, namun dengan adanya pandemi covid19 semua kegiatan kita pun mengalami kendala. Hal ini tentu mempengaruhi perputaran aktivitas ekonomi dan mempengaruhi ekonomi secara keseluruhan.

Worldbank memperkirakan ekonomi Indonesia tahun depan akan mengalami recovery atau perbaikan kearah lebih baik. Pertanyaan pun muncul di benak masyarakat umum termasuk saya sendiri, sebenarnya sektor apa saja yang akan mengalami perbaikan dan sektor apa yang menjadi prioritas agar ekonomi dapat recovery dengan aman dan cepat.

Pada kesempatan ini, saya akan membahas sedikit tentang sektor apa saja yang akan mengalami perbaikan dan sektor apa yang menjadi prioritas agar ekonomi dapat recovery secara aman dan cepat.

Tahun 2020, sebentar lagi akan berakhir dan tahun 2021 akan segera berada di depan mata kita. Kita harus dapat menerima bahwa 2020 sudah hampir berakhir dan tidak lama lagi kita akan menjalani kehidupan di tahun 2021 sebagai kenyataan dan harus dijalani dengan penuh optimisme.

Optimisme di tahun 2021, bukan menjadikan kita pribadi yang acuh terhadap permasalahan yang sedang kita jalani dan tidak mengindahkan protocol kesehatan. Namun optimisme yang kita miliki dapat menjadi pendorong semangat kita untuk mencari peluang dari setiap permasalahan yang ada.

Data menunjukkan bahwa data ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan negatif, pertumbuhan negatif terjadi di Indonesia mulai Q2 2020. Terlepas respons kebijakan, laju pemulihan saat ini mengindikasikan bahwa Indonesia akan menyelesaikan tahun ini dalam resesi (-2,2), pertama kalinya dalam dua dekade.  

Image : Unsplash.com @alexisrbrown

The bad news is time flies, the good news is you are the pilot —- Michael Altschuler

Sektor-sektor dengan kontak intensif akan pulih perlahan pada 2021-2022 namun akan tetap tertahan untuk jasa tertentu seperti pariwisata. Hal ini dapat dimaklumi karena masyarakat selama adanya pandemic covid19 ini tertahan untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan kontak fisik, sebagai respon dari upaya pencegahan penyebaran Virus Covid-19.

Pertumbuhan dalam sektor-sektor berorientasi ekspor seperti manufaktur dan pertambangan akan didukung oleh pertumbuhan global yang lebih kuat, perdagangan dan harga komoditas. Hal ini dapat dimengerti mengingat kebutuhan masyarakat akan terus tumbuh walaupun kegiatannya ekonominya mengalami keterbatasan, dan akan lebih berdampak pada sektor kebutuhan tanpa kontak fisik.

Proyeksi acuan dasar (baseline ) ini akan dipengaruhi oleh ketidakpastian yang sangat tinggi terkait dinamika pandemi di Indonesia dan di negara-negara lain. Pertumbuhan dapat merosot menjadi 3,1 persen pada 2021 dan 3,8 persen pada 2022 di bawah skenario buruk (downside scenario) pengetatan mobilitas dan pembatasan sosial yang berat di Indonesia.

Kinerja pertumbuhan jangka menengah Indonesia amat bergantung pada penanggulangan

potensi dampak negatif krisis terhadap investasi, produktivitas dan modal manusia. Ini membutuhkan perbaikan efektivitas respons krisis dan reformasi struktural untuk mengangkat potensi pertumbuhan.

Karena itu, rekomendasi fokus ke depan bagi Indonesia adalah pada penguatan dan percepatan pemulihan. Prioritas utama adalah untuk menghindari kemunduran akibat perkembangan buruk terkait pandemi. Kesehatan publik tetap menjadi prioritas teratas untuk mengizinkan ekonomi tetap terbuka dan bergerak menuju pembukaan kembali aktivitas ekonomi secara menyeluruh dan aman.

Kesehatan public memerlukan perbaikan lebih lanjut dalam pengetesan dan pelacakan kontak, serta langkah-langkah kesehatan publik lainnya dan serta persiapan untuk pengadaan dan pemberian vaksin yang aman dan efektif secara luas begitu selesai dikembangkan dan disetujui.

Dukungan kepada rumah tangga dan perusahaan yang terdampak akan perlu dijaga sampai krisis telah terkendali dan kerangka kebijakan diperlukan agar pemulihan tetap berbasis bukti, transparan dan adaptif. Tantangan utama untuk bantuan sosial adalah untuk menjaga cakupan dan kecukupan program yang ada.

Serta memperkuat mekanisme untuk mengidentifikasi dan mendaftarkan warga miskin dan rentan. Dengan pulihnya ekonomi secara perlahan, dukungan likuiditas yang disalurkan melalui sektor keuangan perlu disesuaikan kembali dan ditargetkan dengan baik kepada peminjam yang layak.

Pada saat yang sama, kebijakan yang diambil perlu mempertimbangkan antara kebutuhan dukungan jangka pendek dan pentingnya untuk mencapai tujuan jangka menengah dan menanggulangi risiko.

Penting agar pembiayaan moneter untuk defisit dibatasi waktunya, disesuaikan dengan baik dan transparan, dan strateginya dikomunikasikan dengan jelas.

Penerapan langkah-langkah penangguhan pinjaman perlu dipantau secara ketat dan strategi untuk melepaskan kebijakan ini perlu dikembangkan.

Di sisi fiskal, beberapa reformasi pajak dan pengeluaran yang diprioritaskan dengan baik dapat dilaksanakan untuk membantu membiayai respon krisis dan meningkatkan ruang fiskal. Reformasi ini dapat mencakup peningkatan pajak penghasilan pribadi di antara orang-orang yang berpenghasilan tinggi dan menaikkan cukai.

Kenaikan cukai terutama untuk produk dengan dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan seperti tembakau, minuman dengan pemanis gula, bahan bakar fosil, dan kantong plastik sekali pakai, serta mengurangi subsidi energi.

Sumber : BPS.co.id, Worldbank.org

Rio Aditya Ermindo

Rio Aditya Ermindo

Follow my instagram @rioadityae

Leave a Reply